Oplusoplus_34

​Sorotkeadilan.id-MAKASSAR-Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes) Makassar kembali menunjukkan komitmennya dalam mengawal keamanan pangan masyarakat melalui pelaksanaan praktikum dan pengujian analitis “Penentuan Kadar dan Identifikasi Boraks pada Pangan” di Laboratorium Kimia Farmasi, kampus Poltekkes Makassar.

​Pengujian ini berfokus pada deteksi bahan kimia berbahaya, khususnya senyawa Natrium Tetraborat (Boraks), yang kerap disalahgunakan sebagai zat pengawet dan pengenyal pada produk olahan pangan harian seperti bakso, mi basah, kerupuk gendar, dan tahu.

Metodologi dan Tahapan Pengujian.  Dalam pengujian di laboratorium, para mahasiswa dan peneliti menerapkan gabungan metode kualitatif dan kuantitatif untuk memastikan presisi hasil:

Uji Kualitatif (Reaksi Warna & Uji Nyala), Uji Kertas Kunyit (Turmeric Paper): Ekstrak sampel pangan diasamkan dengan asam klorida (\text{HCl}), kemudian diteteskan pada kertas kunyit. Adanya boraks ditandai dengan perubahan warna kertas dari kuning menjadi merah kecokelatan (rososianin), yang berubah menjadi hijau/biru tua saat ditetesi larutan alkali (\text{NaOH}).

Uji Nyala Api, Sampel yang dikeringkan dan ditambahi metanol serta asam sulfat pekat (\text{H}_2\text{SO}_4) dibakar. Nyala api berwarna hijau khas menandakan keberadaan pembentukan senyawa metil borat.

Uji Kuantitatif (Spektrofotometri / Titrasi Alkalimetri): Pengukuran kadar boraks secara spesifik dilakukan untuk mengetahui tingkat kontaminasi zat terlarut pada sampel yang terbukti positif secara kualitatif. Temuan dan Implikasi Keamanan Pangan

​Berdasarkan analisis laboratorium, pengujian kualitatif ini menjadi sarana krusial untuk memetakan kepatuhan produsen pangan lokal terhadap standar Peraturan Menteri Kesehatan RI. Boraks merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang keras untuk konsumsi karena sifatnya yang beracun dan menumpuk (akumulatif) dalam organ tubuh seperti hati dan ginjal.

Edukasi Laboratorium: Boraks bukan pengawet makanan. Konsumsi berulang dalam jangka panjang berpotensi memicu kerusakan ginjal, gangguan pencernaan kronis, hingga risiko kanker.

Melalui kegiatan pengujian berkala ini, Jurusan Farmasi Poltekkes Makassar tidak hanya memperkuat kompetensi analitis mahasiswa dalam analisis analisis mutu obat dan makanan (AMOK), tetapi juga siap berkontribusi dalam memberikan edukasi serta hasil pengujian tepercaya bagi masyarakat dan pihak regulator di wilayah Makassar dan sekitarnya.

Ditulis oleh apt. Rusdiaman. SSi.,M.Si. dosen jurusan farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.