IMG 20260813 WA0071

Sorotkeadilan.id-MAKASSAR-Sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dan penerapan keilmuan di bidang kimia analisis, mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar menggelar kegiatan analisis pengujian kandungan bahan berbahaya (formalin) pada berbagai jenis jajanan pangan yang dijual di sekitar lingkungan kampus.

​Pengujian ini dipusatkan di Laboratorium Kimia Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar. Langkah ini diambil guna memastikan jajanan yang rutin dikonsumsi oleh mahasiswa, dosen, serta masyarakat sekitar bebas dari bahan kimia sintetis pengawet non-pangan yang berisiko bagi kesehatan.

Metodologi dan Pengambilan Sampel. Dalam praktikum dan riset lapangan ini, mahasiswa mengumpulkan puluhan sampel makanan yang rentan disalahgunakan dengan penambahan formalin, seperti mi basah, tahu, bakso, sosis, hingga berbagai olahan gorengan dari pedagang kaki lima di sekitar jalan wilayah kampus.

​Pengujian dilakukan menggunakan dua metode pendekatan:

Uji Kualitatif (Test Kit Rapid Formalin): Untuk mendeteksi secara cepat ada atau tidaknya perubahan warna indikator yang menandakan keberadaan senyawa formaldehida.

Uji Reaksi Warna Kimia: Menggunakan reagen spesifik di laboratorium untuk mengonfirmasi presisi hasil uji awal.

​”Kegiatan ini bukan hanya sekadar pemenuhan tugas praktikum mata kuliah Kimia Makanan dan Minuman, tetapi juga langkah nyata mahasiswa Farmasi dalam mengawal keamanan pangan di lingkungan terkecil kami,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.

Edukasi dan Implikasi Kesehatan. Formalin merupakan larutan formaldehida yang diperuntukkan bagi industri non-pangan, seperti perekat kayu, tekstil, dan pengawet mayat. Konsumsi makanan yang terkontaminasi formalin secara berulang dapat memicu iritasi saluran pencernaan, kerusakan organ hati dan ginjal, hingga peningkatan risiko kanker (karsinogenik) jangka panjang.

​Dari hasil pengujian yang dilakukan, sebagian besar sampel jajanan di sekitar kampus menunjukkan hasil negatif formalin. Namun, untuk beberapa sampel yang memberikan indikasi warna meragukan, mahasiswa melakukan pengujian ulang dan memberikan imbauan secara persuasif serta edukatif kepada pedagang terkait standar pemilihan bahan baku yang aman.

​Hasil pengujian ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi civitas akademika Poltekkes Kemenkes Makassar sekaligus meningkatkan kesadaran para pelaku usaha kuliner lokal akan pentingnya menyajikan makanan yang sehat, higienis, dan bebas dari bahan berbahaya.

Ditulis oleh apt. Rusdiaman. SSi.,M.Si. dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar