Sorotkeadilan.id – Jakarta, Pidato Menteri Abdul Mu’ti pada peringatan Hardiknas 2025 mengangkat tema besar “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini menjadi landasan kuat bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pendidik semata, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Dalam pidatonya, beliau mengingatkan bahwa pendidikan adalah hak asasi setiap warga negara yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, sehingga tidak boleh ada warga negara yang tertinggal atau terabaikan dalam mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap siapa pun, baik atas dasar agama, suku, kondisi fisik, jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun lokasi geografis. Pendidikan harus bersifat inklusif, merata, dan menjangkau seluruh pelosok negeri.

Beliau juga menekankan bahwa Hari Pendidikan Nasional bukanlah sekadar upacara seremonial tahunan. Lebih dari itu, Hardiknas adalah momentum penting untuk melakukan refleksi mendalam terhadap kemajuan, tantangan, serta kekurangan dalam dunia pendidikan Indonesia. Peringatan ini menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan dan apa yang masih harus diperjuangkan demi mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh para pendiri bangsa.

Dalam pidato tersebut, Menteri Abdul Mu’ti memberikan perhatian khusus pada peran guru sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga pembimbing, panutan, motivator, bahkan sahabat bagi para peserta didik. Guru harus menjadi agen transformasi pendidikan dan peradaban, membantu siswa bukan hanya untuk cerdas secara akademik, tetapi juga unggul secara moral dan karakter. Dalam menghadapi tantangan zaman yang berubah begitu cepat, guru diharapkan mampu terus belajar, berinovasi, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.

Selanjutnya, pidato tersebut menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pendidikan yang bermutu hanya bisa dicapai jika ada sinergi dan kerja sama antara berbagai pihak: pemerintah pusat dan daerah, sekolah dan masyarakat, dunia usaha dan dunia industri, serta peran aktif orang tua dalam mendukung proses pembelajaran. Abdul Mu’ti menekankan bahwa semangat gotong royong harus terus ditumbuhkan sebagai kekuatan khas bangsa Indonesia dalam membangun sistem pendidikan nasional yang adil, inklusif, dan berkualitas.

Pidato ini juga mengandung ajakan moral kepada seluruh insan pendidikan untuk tidak berhenti bermimpi dan berinovasi. Ditekankan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari hasil ujian semata, tetapi juga dari kemampuan membentuk karakter siswa yang jujur, bertanggung jawab, toleran, dan cinta tanah air. Pendidikan harus mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan semangat kebangsaan yang kuat.

Sebagai penutup, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengajak semua pihak untuk terus melangkah bersama dalam mewujudkan sistem pendidikan yang mampu menjadi fondasi kemajuan bangsa. Pendidikan harus menjadi alat utama untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Semangat peringatan Hardiknas tahun ini adalah untuk memperkuat komitmen kebangsaan dalam membangun pendidikan yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

(BOF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *