Oleh: Thaufiqurrahman.F
Sorotkeadilan.id – Bali – Perayaan kelulusan sejatinya adalah puncak dari proses panjang pendidikan—momen penuh syukur dan kebanggaan atas jerih payah para siswa, guru, dan orang tua. Namun, apa yang terjadi pada Senin, 28 April 2025, di SMKN 1 Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, justru mencoreng nilai-nilai luhur pendidikan yang seharusnya dijunjung tinggi.
Acara kelulusan yang berlangsung sejak pukul 16.00 Wita hingga pukul 17.30 Wita tersebut memperlihatkan penampilan seorang DJ wanita dengan pakaian tidak pantas. Mengenakan seragam sekolah versi “seksi” dengan atasan putih ketat dan rok super pendek, ia tampil di hadapan para siswa dan siswi dalam suasana pesta yang jauh dari nuansa pendidikan.
Pertanyaan besar pun muncul: bagaimana kegiatan seperti ini bisa terjadi di lingkungan sekolah? Siapa yang memberi izin? Di mana kontrol dan pengawasan dari pihak sekolah? Ketika institusi pendidikan justru membuka ruang bagi hiburan yang tidak mendidik, kita patut bertanya—apakah pendidikan masih berjalan di jalur yang benar?
Alih-alih menjadi ajang pelepasan yang sarat makna, acara tersebut malah menjadi simbol kemunduran nilai moral. Dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab membentuk generasi yang berakhlak dan bertanggung jawab. Ketika sekolah gagal menjaga batas etika dalam perayaan kelulusan, itu adalah bentuk pembiaran yang merusak.
Inilah salah satu penyebab karakter murid kita semakin buruk. Ketika yang ditanamkan bukan nilai, tapi hiburan bebas tanpa arah, maka yang tumbuh bukan pribadi kuat berkarakter, melainkan generasi yang kehilangan kompas moral.
Bukankah lebih elok jika perpisahan dirayakan dengan kesederhanaan, kekhidmatan, dan nilai kebersamaan? Bukan dengan tontonan yang jauh dari nilai pendidikan.
Pendidikan harus kembali ke esensinya—membentuk karakter, bukan menjerumuskan. Jika sekolah saja abai terhadap nilai, maka siapa lagi yang bisa diandalkan untuk membimbing generasi muda?
Pesta kelulusan yang terjadi di SMKN 1 Tejakula pada 28 April 2025 bukanlah keberhasilan dunia pendidikan, melainkan alarm keras bahwa ada yang salah dalam cara kita memandang dan menjalankan pendidikan. Saatnya kita bersikap: menolak segala bentuk pembiaran yang mengikis nilai moral generasi bangsa.
(BOF)
