Oleh : Thaufiqurrahman.F
Sorotkeadilan.id – Jakarta, Bersin adalah hal yang sangat manusiawi dan biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua mengalaminya, baik ketika tubuh sedang kurang fit, terkena debu, atau karena perubahan cuaca. Namun, dalam Islam, bersin bukan sekadar reaksi tubuh semata. Ternyata, bersin memiliki tempat istimewa dan diatur adabnya dalam ajaran Rasulullah Muhammad saw. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, yang memperhatikan bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan umatnya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap.” (HR. Bukhari). Mengapa bersin disukai oleh Allah? Karena bersin adalah cara tubuh membersihkan diri dari gangguan atau partikel asing di saluran pernapasan. Ini merupakan tanda bahwa tubuh sedang menjalankan fungsi sehatnya. Oleh karena itu, ketika seorang Muslim bersin, ia dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan “Alhamdulillah”.
Tidak hanya sampai di situ, Islam juga mengajarkan adab sosial saat bersin. Ketika seseorang bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah”, orang yang mendengarnya dianjurkan untuk menjawab dengan “Yarhamukallah” yang berarti “Semoga Allah merahmatimu.” Kemudian, orang yang bersin membalasnya dengan ucapan, “Yahdikumullah wa yushlih baalakum” yang artinya, “Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu.”
Adab ini tidak hanya menunjukkan betapa Islam memperhatikan syukur kepada Allah, tetapi juga memperkuat ukhuwah Islamiyah—ikatan kasih sayang antar sesama Muslim. Dengan saling mendoakan dalam momen sederhana seperti bersin, hubungan sosial menjadi lebih erat dan penuh keberkahan.
Namun, Rasulullah juga memberikan pedoman jika seseorang tidak mengucapkan “Alhamdulillah” setelah bersin, maka kita tidak wajib menjawab dengan “Yarhamukallah”. Dalam hadis lain beliau bersabda, “Jika ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’, maka jawablah dengan ‘Yarhamukallah’. Jika tidak, maka jangan menjawabnya.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan pentingnya syukur sebagai awal dari interaksi sosial Islami. Tanpa rasa syukur, keberkahan dari relasi sosial pun menjadi terputus.
Selain ucapan, Rasulullah juga mengajarkan etika fisik saat bersin. Seorang Muslim dianjurkan untuk menutup mulut dan hidungnya dengan tangan, lengan, atau kain saat bersin, serta merendahkan suaranya agar tidak mengganggu orang lain. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi saw. biasa menutup wajah beliau saat bersin dengan tangan atau kain dan merendahkan suaranya (HR. Tirmidzi). Ini adalah bentuk adab dan kebersihan yang sangat relevan, bahkan dalam konteks kesehatan modern.
Dari semua penjelasan ini, kita dapat memahami bahwa Islam tidak pernah meremehkan hal-hal kecil. Bahkan dalam bersin, kita diajarkan untuk bersyukur, menjaga etika, dan menyambung kasih sayang dengan sesama. Adab bersin menjadi contoh nyata bagaimana Islam membentuk kepribadian Muslim menjadi bersih, santun, dan penuh rasa syukur.
Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap bersin sebagai momen ibadah kecil. Ucapkan “Alhamdulillah” dengan tulus, doakan saudara yang bersin dengan “Yarhamukallah”, dan balaslah doa itu dengan “Yahdikumullah wa yushlih baalakum”. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa menghidupkan sunnah Rasulullah saw., sekecil dan sesederhana apa pun itu. (BOF).
