Oleh : Thaufiqurrahman.F

Sorotkeadilan.id – Jakarta, Langkah Pemerintah Kabupaten Purwakarta mengirimkan 39 siswa bermasalah ke Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Batalyon Armed 9 TNI AD merupakan bentuk nyata implementasi program pembinaan karakter yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Para siswa yang dikategorikan “nakal” ini akan mengikuti pelatihan selama 14 hari dalam suasana barak dengan pola kedisiplinan ala militer. Sebuah pendekatan yang mungkin kontroversial bagi sebagian orang, namun menyimpan potensi besar dalam membentuk karakter anak-anak yang selama ini sulit dikendalikan oleh orang tua maupun lingkungan sekolah.

Fenomena degradasi karakter remaja memang menjadi tantangan serius. Banyak anak yang tumbuh dengan kebiasaan lamban, tidak tanggap terhadap perintah, cenderung meremehkan aturan, bahkan melawan otoritas orang tua. Di sisi lain, lingkungan rumah yang permisif serta lemahnya pengawasan membuat nilai-nilai kedisiplinan sulit ditanamkan secara konsisten.

Pola pembinaan dalam barak yang bercorak semi militer menawarkan solusi yang tegas dan sistematis. Anak-anak dilatih untuk hidup teratur, menghormati waktu, patuh terhadap instruksi, serta bekerja sama dalam kelompok. Pembentukan mental seperti ini dapat memperbaiki kebiasaan buruk yang terbentuk akibat pengaruh lingkungan bebas yang tidak terkendali. Kedisiplinan yang diajarkan secara langsung dan terus-menerus menciptakan efek jera sekaligus membentuk sikap tanggung jawab, ketahanan mental, dan kesadaran sosial.

Meskipun ada anggapan bahwa pendekatan ini bersifat memaksa, namun realitas menunjukkan bahwa usia remaja adalah fase di mana pengaruh luar sangat kuat dan kesadaran pribadi belum stabil. Dalam kondisi demikian, pola pembinaan yang tegas sangat diperlukan. Seperti halnya latihan fisik yang membutuhkan tekanan untuk membentuk otot, pembentukan karakter pun memerlukan tantangan agar nilai-nilai luhur tertanam kuat.

Model semi militer ini juga bukan berarti menjadikan anak-anak kaku atau represif, melainkan memberi ruang belajar yang lebih nyata tentang kehidupan. Mereka merasakan langsung arti ketaatan, kerja keras, dan pentingnya peran dalam tim. Nilai-nilai ini justru sulit didapatkan dari sistem pendidikan konvensional yang terlalu berorientasi pada aspek akademis semata.

Di tengah arus digitalisasi dan gaya hidup instan yang memudahkan anak-anak menghindari tanggung jawab, pendekatan pembinaan berbasis kedisiplinan seperti ini patut didukung dan diperluas. Bukan hanya sebagai solusi terhadap kenakalan remaja, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar membentuk generasi tangguh yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan mental baja dan karakter kuat. (BOF).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *