Oleh : Thaufiqurrahman.F
Sorotkeadilan.id – Jakarta, Sabtu, 17 Mei 2025, Pukul 19.30 WIB – Kediaman Bp. Denny PW, Perumahan Pesona Ayana, Blok PD 06, Bekasi.
Saya merasa terhormat dapat menghadiri acara Walimatul Aqiqah putra dari Bapak Denny PW pada Sabtu malam, 17 Mei 2025, pukul 19.30 WIB. Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan itu, saya turut berkesempatan membacakan doa penutup, sementara Ustadz Abdul Hada memimpin pembacaan Maulid Barzanji dan Mahalul Qiyam. Acara tersebut bukan hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga membuka ruang kontemplatif yang dalam mengenai makna dan akibat pelaksanaan aqiqah dalam kehidupan seorang Muslim.
Aqiqah: Lebih dari Sekadar Tradisi
Dalam Islam, aqiqah bukanlah sekadar perayaan budaya, melainkan bagian dari sunnah muakkadah—anjuran kuat dari Rasulullah SAW yang dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Pelaksanaannya mencakup penyembelihan hewan, pencukuran rambut bayi, pemberian nama yang baik, serta pembagian daging kepada keluarga, tetangga, dan kaum dhuafa. Seluruh rangkaian ini mengandung nilai spiritual, sosial, dan psikologis yang sangat mendalam.
Akibat Positif dari Pelaksanaan Aqiqah
- Akibat Spiritual: Menanam Tauhid Sejak Dini
Aqiqah mengajarkan bahwa kelahiran seorang anak adalah karunia dari Allah SWT yang harus disambut dengan rasa syukur dan ibadah. Penyembelihan hewan atas nama Allah, doa keberkahan, dan sedekah seberat rambut bayi menjadi cara pertama orang tua mengenalkan nilai tauhid kepada anak sejak dini. Meskipun sang anak belum memahami maknanya, namun secara spiritual, ia telah dimasukkan ke dalam lingkungan keberkahan dan syiar keimanan. - Akibat Sosial: Menjalin Ukhuwah dan Menyebarkan Kebaikan
Aqiqah juga berfungsi sebagai perekat sosial. Ketika daging aqiqah dibagikan, terutama kepada tetangga dan fakir miskin, maka terjalin ukhuwah dan rasa peduli yang lebih kuat di tengah masyarakat. Malam itu saya menyaksikan langsung bagaimana aqiqah menjadi media silaturahmi antar kerabat, sahabat, dan tetangga dalam nuansa penuh berkah. Inilah bentuk nyata ibadah yang membawa kemaslahatan sosial. - Akibat Psikologis: Menumbuhkan Kesadaran Orang Tua
Aqiqah juga membawa dampak positif bagi orang tua. Ia menjadi pengingat bahwa anak bukan hanya anugerah, tapi juga amanah. Dalam pelaksanaannya, tumbuh kesadaran mendalam untuk mendidik anak dengan nilai-nilai Islam. Doa dan harapan yang mengiringi pelaksanaan aqiqah juga memberi ketenangan batin dan rasa tanggung jawab yang semakin kuat dalam diri orang tua.
Jika Aqiqah Ditinggalkan: Renungan Akan Akibatnya
Meskipun aqiqah tidak bersifat wajib, meninggalkannya dapat menghilangkan banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Anak kehilangan syiar dan doa yang seharusnya mengiringi awal kehidupannya. Masyarakat kehilangan momentum untuk memperkuat silaturahmi dan budaya berbagi. Orang tua pun kehilangan peluang awal untuk menanamkan nilai spiritual sejak dini.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya; disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya), dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Imam Ahmad menjelaskan bahwa istilah “tergadai” menunjukkan bahwa anak belum mendapatkan kesempurnaan perlindungan spiritual hingga aqiqah dilaksanakan. Ini menunjukkan betapa pentingnya aqiqah sebagai pondasi awal kehidupan seorang anak dalam Islam.
Penutup
Malam yang penuh keberkahan di kediaman Bapak Denny PW bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi pelajaran rohani yang menyentuh hati. Aqiqah bukan hanya seremoni keluarga, melainkan wujud nyata dari keimanan, kepedulian sosial, dan kesadaran tanggung jawab keorangtuaan dalam ajaran Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi anak yang diaqiqahkan, menjadikannya anak yang saleh, penyejuk mata, dan pembela agama di masa depan. Semoga keluarga besar Bapak Denny PW dikaruniai keberkahan, kesehatan, dan kebahagiaan yang melimpah. Dan semoga kita semua diberi kemudahan untuk menunaikan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. (BOF).
