Oleh: Thaufiqurrahman.F
Sorotkeadilan.id – Jakarta, Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, menandai lahirnya kesadaran kolektif bangsa Indonesia untuk bersatu, belajar, dan melawan ketertinggalan. Dalam lintasan sejarah, ini menjadi titik awal bangkitnya semangat kebangsaan. Namun, bila dipandang dari kacamata Islam, makna kebangkitan jauh lebih dalam daripada sekadar peristiwa politik atau sejarah organisasi. Kebangkitan adalah bagian dari ajaran Islam itu sendiri.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini menjadi pilar teologis bagi setiap upaya perubahan. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk diam dan menyerah dalam keterpurukan, tetapi mendorong untuk bangkit dari kebodohan, kezaliman, kemalasan, dan kehinaan menuju iman, ilmu, dan amal.
Dalam sejarah peradaban Islam, kebangkitan selalu menjadi ciri umat yang hidup. Rasulullah SAW membawa umat dari zaman jahiliyah menuju peradaban. Para khalifah membangun sistem keadilan, pendidikan, dan teknologi. Para ulama terus menyalakan obor ilmu dan memperjuangkan kebenaran di tengah tantangan zaman. Inilah yang seharusnya menjadi inspirasi umat Islam hari ini.
Di Indonesia sendiri, tokoh-tokoh Islam memiliki kontribusi besar dalam kebangkitan nasional. KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, H. Agus Salim, dan banyak ulama lainnya bukan hanya pemimpin umat, tetapi juga pahlawan bangsa. Mereka memperjuangkan pendidikan, persatuan, dan nilai-nilai luhur keislaman yang selaras dengan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebangkitan nasional dan kebangkitan Islam di Indonesia berjalan beriringan.
Hari ini, umat Islam tidak sedang menghadapi penjajahan dalam bentuk fisik, melainkan dalam bentuk yang lebih halus: kemalasan berpikir, krisis moral, perpecahan, kemiskinan spiritual, dan ketergantungan pada dunia luar. Di sinilah tantangan kebangkitan modern itu hadir. Maka, umat Islam perlu kembali kepada nilai-nilai Islam yang mendorong kerja keras, kejujuran, semangat belajar, ukhuwah, serta keberanian untuk tampil sebagai pelopor perbaikan.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, melainkan momen refleksi kolektif. Apakah kita sudah benar-benar bangkit sebagai umat yang berdaya? Apakah kita masih memelihara semangat belajar dan berkarya? Ataukah justru kita tengah tertidur dalam kenyamanan dan melupakan amanat dakwah dan pembangunan?
Kebangkitan adalah tanggung jawab bersama. Ia bukan hanya tugas pemerintah, bukan hanya tanggung jawab ulama, bukan pula milik para cendekiawan. Kebangkitan adalah proyek peradaban yang harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan akhirnya menjadi kekuatan umat dan bangsa.
Bangkitlah wahai umat! Bangkitlah dengan ilmu, akhlak, dan kontribusi nyata. Karena sesungguhnya, kejayaan Islam dan kemajuan bangsa tidak akan datang kecuali dari tangan-tangan orang beriman yang mau bekerja, bersatu, dan tidak lelah memperbaiki diri.(BOF).
