Oleh: Thaufiqurrahman.F
Sorotkeadilan.id – Jakarta, Di tengah persaingan dunia kerja, masih banyak yang mengagungkan label “universitas ternama.” Banyak perusahaan memasang syarat lulusan perguruan tinggi unggulan sebagai prasyarat utama. Namun, apakah benar lulusan kampus ternama otomatis lebih bermutu dan berkualitas?
Faktanya, kuliah di universitas ternama tidak menjamin mutu mahasiswa. Reputasi institusi memang penting, tapi tidak bisa menjadi tolok ukur tunggal untuk menilai kapasitas individu. Pembentukan karakter dan kompetensi lebih dipengaruhi oleh sikap belajar, kerja keras, dan kemauan berkembang.
Seperti yang pernah dikatakan Ki Hajar Dewantara, “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” Artinya, pendidikan bukan soal tempat belajar, tetapi proses menuntun potensi diri—yang bisa terjadi di mana saja.
Input mahasiswa dari kampus unggulan biasanya lebih baik karena seleksi ketat, tapi input baik belum tentu menghasilkan output yang hebat. Banyak mahasiswa dari kampus ternama yang kurang berkembang, pasif, dan minim inisiatif. Sebaliknya, banyak mahasiswa dari kampus biasa justru lebih gigih dan aktif karena harus berjuang keras.
Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brasil, juga pernah menyatakan bahwa “Education does not change the world. Education changes people. People change the world.” Pendidikan adalah soal perubahan pribadi, bukan institusi. Maka, siapapun yang mau berubah dan berkembang, di manapun dia belajar, akan mampu mengubah dunia.
Contohnya, William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia, adalah lulusan Universitas Bina Nusantara (Binus), sebuah kampus swasta yang dulu belum dikenal luas, namun membuktikan bahwa semangat inovasi dan kerja keras jauh lebih penting daripada nama kampus. Selain itu, Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, hanya lulusan SMA dan tidak menempuh pendidikan tinggi, tetapi mampu menunjukkan prestasi luar biasa berkat dedikasi dan keberanian. Contoh lain adalah Chairul Tanjung, pengusaha sukses yang menempuh pendidikan di universitas swasta biasa, dan membuktikan bahwa kerja keras dan jiwa kewirausahaan jauh lebih menentukan kesuksesan.
Dunia kerja saat ini lebih menilai kemampuan nyata dibandingkan nama almamater. Portofolio, keterampilan, sikap profesional, dan integritas menjadi kunci utama yang dicari perusahaan.
Anies Baswedan, seorang pendidik dan mantan Menteri Pendidikan, pernah menyampaikan, “Pendidikan bukan hanya untuk mencetak sarjana, tapi untuk mencetak manusia merdeka, yaitu mereka yang bisa berpikir, bersikap, dan berkarya secara mandiri.” Maka, lulusan yang bermutu adalah mereka yang memerdekakan diri dari sekadar gengsi almamater.
Sudah saatnya kita menggeser paradigma lama. Mutu seseorang tidak ditentukan dari di mana ia kuliah, tapi bagaimana ia belajar, tumbuh, dan berkontribusi. Mahasiswa hebat bisa lahir dari kampus mana saja, asalkan memiliki karakter dan semangat juang.
Mari kita bangun budaya menghargai kemampuan dan prestasi nyata, bukan sekadar label atau gelar. Percayalah, dengan tekad yang kuat dan kerja keras tanpa henti, setiap individu punya kesempatan yang sama untuk sukses dan memberi manfaat bagi bangsa dan negara. (BOF).
