Oleh: Thaufiqurrahman.F (BOF)

Sorotkeadilan.id – Menjelang Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, saya termasuk salah satu warga yang sangat berharap agar ibu kota dipimpin oleh sosok yang sejalan dengan nilai-nilai dan tuntunan Al-Qur’an. Harapan itu bukan hanya saya rasakan sendiri, tetapi juga tampak menguat di tengah masyarakat, khususnya umat Islam yang ingin berjuang dalam bingkai dakwah dan konstitusi.

Namun semangat saja tidak cukup. Saya sempat bertanya-tanya: di mana wadah perjuangan ini bisa saya ikuti?

Suatu hari, secara tidak sengaja saya melihat sebuah pengumuman dalam bentuk poster digital—semacam slayer—yang ditujukan bagi para jawara dan pengacara yang ingin berjuang bersama. Pengumuman itu tersebar di sebuah grup WhatsApp yang saya lupa namanya. Di sana tertera sebuah nomor WhatsApp. Saya memberanikan diri menghubungi nomor tersebut dan mengisi biodata pribadi. Tak lama kemudian, saya dimasukkan ke sebuah grup WhatsApp bernama Forum Indonesia, tempat berkumpulnya para pengacara dan jawara se-DKI Jakarta.

Pada tanggal 25 Februari 2017, saya menerima undangan untuk menghadiri pertemuan di rumah Ibu Hj. Fahira Idris, salah satu tokoh yang dikenal gigih memperjuangkan aspirasi umat. Pertemuan dijadwalkan pukul 08.00 pagi. Kami disambut hangat dan dijamu dengan sarapan nasi uduk khas Betawi di rumah beliau.

Saya hadir sebagai perwakilan dari Jakarta Utara, bersama tiga rekan lainnya: saya sendiri, almarhum Bang Fatoni, dan Bang Anger.

Pertemuan pagi itu bukan sekadar kumpul-kumpul biasa. Di sana kami merasakan semangat kebersamaan, cinta tanah air, dan kerinduan akan keadilan yang berpijak pada nilai-nilai luhur agama dan kebangsaan. Kami menyatukan langkah, memperkuat barisan, dan siap mengawal demokrasi dengan cara yang bermartabat.

Tidak lama setelah kami mulai menyantap sarapan, datanglah Pak Sandiaga Uno, disusul oleh Pak Anies Baswedan. Hadir pula almarhum Dr. Fahmi Idris, ayahanda tercinta Ibu Fahira, serta sosok yang mencetuskan ide relawan gabungan jawara dan pengacara, yakni Bang Aldwin Rahadian, suami Ibu Fahira.

Maka pada pagi itu, Sabtu, 25 Februari 2017, resmi dibentuklah relawan Bang Japar (Kebangkitan Jawara dan Pengacara), dengan Ibu Hj. Fahira Idris, SE, MH sebagai Ketua Umum.

Para peserta pertemuan kemudian ditunjuk sebagai koordinator wilayah masing-masing untuk membentuk relawan Bang Japar di daerahnya. Saya sendiri ditunjuk untuk membentuk Bang Japar di wilayah Jakarta Utara.

Seiring waktu dan penuh perjuangan, Bang Japar akhirnya terbentuk di Jakarta Utara dan menyebar ke seluruh wilayah DKI Jakarta. Alhamdulillah, perjuangan itu berbuah manis. Pak Anies Baswedan dan Bang Sandiaga Uno berhasil terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Tugas kami sebagai relawan pengawal demokrasi kala itu telah selesai. Namun Bang Japar tetap eksis dan terus aktif di tengah masyarakat, dipimpin oleh Ibu Fahira Idris sebagai Ketua Umum.

Kini, tidak terasa sudah sembilan tahun Bang Japar berjalan. Dari yang awalnya hanya sebuah relawan, kini tumbuh menjadi sebuah organisasi masyarakat (Ormas) yang aktif dan berdampak. Saya merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar Bang Japar. Saat ini saya dipercaya menjadi Wakil Kepala Divisi Agama di Mako Pusat Bang Japar, dan saya akan terus berkhidmat membantu masyarakat.

Saya juga merasa bangga menjadi anggota Bang Japar karena saya menyaksikan langsung kiprah luar biasa dari Ketua Umum kami, Ibu Hj. Fahira Idris, yang tanpa mengenal waktu terus berjuang untuk masyarakat. Beliau hadir di tengah warga, menginisiasi berbagai kegiatan seperti donor darah, pelatihan keterampilan, bantuan usaha, serta mendampingi anggota dan keluarganya yang sedang sakit atau tertimpa musibah. Jiwa kepemimpinan beliau adalah teladan, dan semangat beliau menjadi inspirasi bagi kami semua untuk terus bergerak dan mengabdi.

Bang Japaaar…. Siaaap!(BOF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *