Oleh: Thaufiqurrahman.F (BOF)

Sorotkeadilan – Jakarta, 13 Agustus 2025 akan tercatat sebagai salah satu hari yang penuh gejolak di Kabupaten Pati. Jalan-jalan dipenuhi gelombang massa, suara toa menggema, spanduk dan poster terangkat tinggi. Satu tuntutan mereka jelas, lugas, dan tanpa basa-basi: Bupati Sudewo, mundur!

Ini bukanlah letupan emosi sesaat. Ini adalah puncak gunung es dari kekecewaan yang menumpuk. Warga merasa suara mereka tak dihiraukan, aspirasi mereka dipatahkan oleh kata-kata yang kasar dan gaya komunikasi yang dingin tanpa empati. Ketika saluran dialog ditutup, yang terbuka hanyalah jalan-jalan kota, diwarnai langkah-langkah protes.

Seorang pemimpin sejatinya adalah teladan, bukan hanya dalam kebijakan, tetapi dalam tutur kata dan sikap. Sebab, kekuasaan bukan sekadar memerintah, melainkan merangkul hati dan pikiran rakyatnya. Pemimpin yang kasar ibarat api yang membakar jembatan kepercayaan — dan ketika jembatan itu runtuh, rakyat akan berjalan di jalan yang berbeda.

Kitab suci Al-Qur’an memberikan panduan yang tak lekang oleh waktu. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.”

Ayat ini adalah cermin yang jernih. Ia memperlihatkan bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak terletak pada nada tinggi suaranya atau kekerasan kata-katanya, tetapi pada kelembutan, kesabaran, dan kesediaannya mendengar. Bahkan Rasulullah ﷺ, yang diutus membawa kebenaran, meraih hati manusia bukan dengan kekerasan, melainkan dengan akhlak yang halus, tutur yang penuh kasih, dan kebiasaan bermusyawarah dalam mengambil keputusan.

Musyawarah menjadi kunci penting dalam ayat ini. Allah memerintahkan langsung kepada Rasul-Nya untuk melibatkan umat dalam pengambilan keputusan, bukan bertindak sepihak. Hal ini membuktikan bahwa kepemimpinan Islami adalah kepemimpinan yang partisipatif, bukan otoriter. Pemimpin yang mau bermusyawarah berarti membuka pintu bagi masukan rakyatnya, dan dengan begitu, rakyat merasa dihargai.

Apa yang terjadi di Pati adalah peringatan keras bagi semua pemimpin di negeri ini. Legitimasi tidak dibangun dari kursi jabatan, melainkan dari kepercayaan rakyat. Dan kepercayaan itu rapuh — ia dapat hancur oleh satu kalimat yang melukai atau oleh satu sikap yang merendahkan.

Kritik seharusnya dipandang sebagai cahaya penerang, bukan sebagai bayangan ancaman. Ketika rakyat berbicara, pemimpin yang bijak akan menunduk untuk mendengar, bukan meninggikan suara untuk membungkam. Kekuasaan adalah titipan, dan titipan itu hanya bisa dijaga dengan hati yang lembut, bukan dengan tangan besi.

Aksi 13 Agustus bukan sekadar protes; ia adalah pesan. Pesan bahwa rakyat yang bersatu bisa membuat gema suara mereka terdengar hingga ke ujung negeri. Dan bagi mereka yang duduk di kursi kekuasaan, pesan ini sederhana namun tegas: merangkul lebih kuat daripada menggenggam, dan mendengar lebih berharga daripada memerintah.

Kini, waktunya setiap pemimpin bercermin. Jika engkau memimpin, tanyakan pada dirimu: Apakah rakyatmu merasa aman berbicara padamu? Apakah mereka merasa dihargai saat mengkritikmu? Apakah kata-katamu menenangkan atau melukai? Sebab pada akhirnya, sejarah hanya mengingat dua jenis pemimpin: mereka yang dikenang karena cinta rakyatnya, atau mereka yang ditinggalkan karena lidahnya sendiri. (BOF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *