Oplusoplus_8388642

​Sorotkeadilan.id-MAKASSAR — Suasana Laboratorium Farmasi Kampus Poltekkes Kemenkes Makassar terasa berbeda dari biasanya. Bau khas bahan kimia bercampur dengan aroma antiseptik memenuhi ruangan berukuran sedang tersebut. Di balik meja-meja praktikum berpermukaan putih, puluhan mahasiswa baru program studi D3 Farmasi tampak fokus mengamati tabung reaksi dan gelas ukur di hadapan mereka. Dengan balutan jas laboratorium putih yang masih bersih, para mahasiswa semester pertama ini sedang bergelut dengan salah satu materi krusial dalam pendidikan farmasi: praktikum kelarutan dan pengenceran bahan obat.

​Praktikum ini menjadi tonggak penting transition masa akademik mereka dari sekolah menengah ke jenjang perguruan tinggi vokasi. Di dunia farmasi, memahami bagaimana suatu zat aktif larut dan bagaimana menghitung dosis pengenceran secara tepat bukanlah sekadar teori di atas kertas, melainkan keterampilan mendasar yang menentukan keamanan produk obat bagi pasien kelak.

Ketelitian yang Menguji Kesabaran

​Proses praktikum diawali dengan pengarahan ketat dari dosen pengampu dan instruktur laboratorium. Sebelum menyentuh alat-alat kaca seperti beaker glass, labu ukur, dan pipet volume, para mahasiswa diwajibkan menyelesaikan perhitungan rumus kelarutan dan pengenceran (V1 × N1 = V2 × N2) di buku catatan praktikum masing-masing.

​Tantangan sebenarnya dimulai saat tahap penimbangan bahan obat menggunakan timbangan analitik presisi tinggi. Sedikit saja getaran atau kesalahan dalam membaca meniskus cairan pada gelas ukur dapat membuat konsentrasi larutan menjadi tidak akurat.

​Salah satu mahasiswa baru,  Farah (18), mengaku bahwa kepresisian skala laboratorium membutuhkan tingkat fokus yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat ia masih di bangku sekolah.

​“Di SMA kami memang pernah mencoba praktikum, tapi di D3 Farmasi Poltekkes ini tingkat ketelitiannya sangat berbeda. Jika perhitungan pengencerannya salah satu tetes saja, warna indikator atau tingkat kelarutannya bisa berubah total. Kami belajar bahwa ketelitian di sini adalah soal keselamatan calon pasien,” ujar Farah di sela-sela kegiatannya meracik larutan.

Kelarutan zat aktif sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari jenis pelarut (solvent), suhu, hingga tingkat keasaman (pH). Dalam praktikum ini, mahasiswa diminta menguji tingkat kelarutan beberapa bahan baku obat padat dalam berbagai jenis pelarut, seperti aquades, alkohol, dan larutan penyangga. Selain itu, mereka berlatih melakukan pengenceran bertingkat (serial dilution) untuk menghasilkan larutan dengan konsentrasi tertentu tanpa menyisakan endapan yang tidak diinginkan.

Bimbingan Intensif dan Pembentukan Karakter Profesional.

​Dosen pengampu mata kuliah Kimia Dasar Prodi Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar Bapak Tajuddin Abdullah,  menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membentuk mindset dasar seorang tenaga vokasi kesehatan. Pendidikan D3 menitikberatkan pada keterampilan teknis dan kesiapan kerja, sehingga kesalahan kecil dalam prosedur praktikum harus segera dikoreksi di tempat.

​Para instruktur terus berkeliling di antara meja praktikum untuk memantau teknik memegang pipet, metode pengocokan labu ukur yang benar, hingga penerapan Good Laboratory Practice (GLP). Kerapian, kebersihan area kerja, serta kepatuhan terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan latex dan masker menjadi poin penilaian yang tidak kalah penting.

Menghadapi ‘Laporan Resmi’ dan Tantangan Evaluasi

​Geliat di laboratorium tidak berhenti saat cairan obat selesai diencerkan. Setelah seluruh rangkaian pengujian selesai, para mahasiswa harus membersihkan kembali seluruh alat kaca dan merapikan bahan kimia ke tempat semula. Tugas selanjutnya yang sudah menanti adalah pembuatan laporan praktikum resmi yang harus diketik dan dianalisis berdasarkan data hasil pengamatan.

​Meskipun rasa lelah terlihat dari wajah para mahasiswa baru, semangat untuk menguasai kompetensi kefarmasian tetap terpancar. Praktikum kelarutan dan pengenceran bahan obat ini hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang mereka di Poltekkes Kemenkes Makassar. Melalui tempaan di laboratorium sejak semester awal, para calon ahli madya farmasi ini sedang membangun fondasi ketelitian, integritas, dan profesionalisme demi melayani masyarakat di dunia kesehatan kelak.

Oleh : Rusdiaman, Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar

Tajuddin Abdullah, Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar