Sorotkeadilan.id-POLTEKKES MAKASSAR – Mahasiswa dan peneliti di Laboratorium Kimia Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar menerapkan metode penetapan kadar alkalimetri untuk menganalisis kandungan asam asetilsalisilat (asetosal/aspirin) dalam berbagai sediaan obat. Pengujian ini dilakukan guna memastikan bahwa kualitas, keamanan, dan efektivitas sediaan farmasi yang beredar di masyarakat telah sesuai dengan standar Pharmacopeia Indonesia.
Asetosal merupakan salah satu obat analgesik-antipiretik dan antiinflamasi yang paling umum digunakan untuk meredakan nyeri, menurunkan demam, hingga mengencerkan darah. Karena asetosal mengandung gugus fungsi asam karboksilat (\text{R-COOH}), pengujian kadar senyawa aktif ini sangat tepat dilakukan menggunakan metode volumetri berbasis reaksi netralisasi asam-basa, yaitu titrasi alkalimetri.
Dalam pengerjaannya di laboratorium, sampel sediaan farmasi berupa tablet asetosal terlebih dahulu digerus hingga homogen dan dilarutkan dalam pelarut netral (seperti etanol netral) untuk mencegah hidrolisis dini. Selanjutnya, larutan sampel dititrasi menggunakan larutan baku sekunder Natrium Hidroksida (\text{NaOH}) dengan penambahan indikator fenolftalein (PP). Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari tidak berwarna menjadi merah muda konstan.
”Penetapan kadar asetosal dengan alkalimetri merupakan praktikum krusial dalam kurikulum Kimia Farmasi. Metode ini melatih presisi, ketelitian, serta pemahaman kuantitatif mahasiswa dalam mengontrol mutu produk obat (quality control),” ujar salah satu instruktur Laboratorium Kimia Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.
Melalui kegiatan analisis rutin dan praktikum berbasis standar Good Laboratory Practice (GLP) ini, Poltekkes Kemenkes Makassar terus berkomitmen mencetak tenaga vokasi kesehatan yang kompeten di bidang analisis obat dan makanan demi menjaga mutu sediaan farmasi di masyarakat.
Ditulis oleh : apt. Rusdiaman, SSi.,M.,Si dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.

