Sorotkeadilan.id – Jakarta, Pendahuluan – Ibadah qurban adalah salah satu syiar Islam yang paling kuat menggambarkan nilai kepatuhan, pengorbanan, dan kecintaan kepada Allah. Dalam setiap tetesan darah hewan qurban, tersimpan kisah panjang sejarah yang bermula dari nabi-nabi terdahulu hingga pelaksanaannya pada zaman Rasulullah Muhammad ﷺ. Artikel ini mengulas secara mendalam akar sejarah ibadah qurban, dari masa Nabi Adam hingga pengamalannya dalam Islam.
Qurban dalam Sejarah Nabi Adam ‘Alaihissalam
Catatan sejarah qurban pertama kali muncul dalam kisah dua putra Nabi Adam: Qabil dan Habil. Allah berfirman:
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah satu dari keduanya dan tidak diterima dari yang lain.”
(QS. Al-Ma’idah: 27)
Menurut para mufassir, Habil mempersembahkan qurban terbaik dari hewan ternaknya, sedangkan Qabil mempersembahkan hasil pertaniannya yang buruk. Allah menerima qurban Habil karena ketakwaan dan keikhlasannya. Ini menjadi pelajaran pertama bahwa qurban bukan semata nilai materi, tetapi dinilai dari niat dan ketakwaan.
Qurban Agung: Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail
Inti sejarah ibadah qurban dalam Islam berpuncak pada kisah agung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putranya, Ismail ‘alaihis salam. Dalam mimpi, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya. Tanpa ragu, ia siap melaksanakan perintah Allah, dan Ismail pun menyambutnya dengan penuh ketundukan:
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. As-Saffat: 102)
Namun ketika penyembelihan hendak dilakukan, Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan yang besar sebagai bentuk ujian yang telah lulus:
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS. As-Saffat: 107)
Peristiwa ini kemudian menjadi dasar utama pelaksanaan ibadah qurban dalam Islam. Pengorbanan, kepatuhan, dan ketulusan Ibrahim dan Ismail menjadi teladan abadi bagi umat Muslim.
Qurban pada Masa Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ menghidupkan kembali syariat qurban sebagai bagian dari ibadah yang dilakukan setiap Idul Adha. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berqurban dengan dua ekor kambing yang bertanduk, berwarna putih dan hitam, dan beliau menyembelihnya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau menjadikan qurban sebagai bentuk syiar dan sedekah sosial, sekaligus pengingat akan ketakwaan yang menjadi tujuan utama ibadah ini:
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Hikmah dan Spiritualitas Qurban
Lebih dari sekadar penyembelihan hewan, ibadah qurban mengajarkan:
- Kepatuhan Total kepada Allah, seperti Ibrahim yang tidak ragu menjalankan perintah.
- Kesediaan Berkorban, bahkan untuk sesuatu yang sangat dicintai.
- Kepedulian Sosial, melalui pembagian daging kepada fakir miskin.
- Pembersihan Jiwa, dari sifat kikir dan cinta dunia berlebih.
Penutup
Ibadah qurban adalah warisan spiritual dari para nabi yang terus hidup dalam syariat Islam hingga hari ini. Ia bukan hanya ritual tahunan, tetapi sebuah momen refleksi: apakah kita telah rela mengorbankan ego, harta, dan keinginan dunia demi kecintaan kepada Allah?
Dalam gema takbir Idul Adha, marilah kita hidupkan kembali semangat qurban. Sebab seperti yang diajarkan Ibrahim dan Ismail, cinta sejati kepada Allah teruji dalam kesediaan untuk memberi, bahkan saat hati kita diuji. (BOF)
