Sorotkeadilan.id-Makassar-Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965 menjadi salah satu titik balik paling kelam dan menentukan dalam sejarah modern Indonesia. Di balik peristiwa penculikan serta pembunuhan para perwira tinggi Angkatan Darat tersebut, terdapat realitas sejarah bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu bukanlah kelompok kecil, melainkan salah satu kekuatan politik terbesar di tanah air.
Raksasa Politik Hasil Pemilu 1955. Kejayaan PKI sebagai panggung kekuatan nasional tercatat secara resmi sejak Pemilihan Umum 1955—pemilu demokratis pertama di Indonesia. Secara mengejutkan, PKI berhasil masuk dalam jajaran “Empat Besar” partai pemenang pemilu bersama PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama (NU).
Perolehan Suara: PKI mengantongi lebih dari 6 juta suara (16,4%).
Basis Massa: Dominan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur melalui konsolidasi buruh serta petani.
Pertumbuhan Keanggotaan: Di bawah kepemimpinan D.N. Aidit, M.H. Lukman, dan Njoto sejak awal 1950-an, PKI bertransformasi dari partai marjinal menjadi organisasi massa bernilai jutaan anggota.
Pilar Utama dalam Konsep Nasakom. Pada era Demokrasi Terpimpin (1959–1965), Presiden Soekarno memperkenalkan doktrin Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) untuk menyatukan elemen-elemen politik utama. Konsep ini menempatkan PKI sebagai pilar resmi pemerintahan yang sejajar dengan kelompok nasionalis dan agamis.
Selain kekuatan struktural partai, PKI menancapkan pengaruh sosial-budaya melalui berbagai organisasi sayap (underbow):
- Pemuda Rakyat — Organisasi kepemudaan.
- Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) — Gerakan hak-hak perempuan dan politik.
- BTI (Barisan Tani Indonesia) — Wadah aksi pembaruan agraria petani.
- SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) — Serikat buruh terbesar pada masanya.
- Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) — Wadah seniman dan budayawan berpaham realisme sosialis.
Ketegangan dan Runtuhnya Kekuatan PKI. Memasuki pertengahan 1960-an, konsolidasi politik PKI memicu gesekan tajam dengan elemen militer—khususnya Angkatan Darat—serta kelompok keagamaan. Isu usulan pembentukan “Angkatan Kelima” (mempersenjatai buruh dan petani) semakin memperkeruh peta politik nasional.
Puncaknya terjadi pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, ketika gerakan militer yang dikomandoi Letkol Untung melakukan tindakan penumpasan terhadap para jenderal AD. Tudingan keterlibatan pimpinan PKI dalam peristiwa tersebut memicu pembalasan politik dan militer secara masif.
Hanya dalam hitungan bulan pasca-G30S, struktur PKI dibubarkan, pimpinannya ditangkap atau dieksekusi, dan partai yang pernah menjadi partai komunis non-penguasa terbesar ketiga di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok itu resmi dilarang melalui TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966. GK
Insya Allah kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT-Tuhan yang maha kuasa.
Ditulis oleh : Rusdiaman, Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar
