Sorotkeadilan.id – Sulawesi Selatan, Swamedikasi merupakan proses pengobatan yang dilakukan sendiri oleh seseorang mulai dari pengenalan keluhan atau gejalanya sampai pada pemilihan dan penggunaan obat. Pengobatan sendiri menurut World Health Orgnization (WHO) adalah pemilihan dan penggunaan obat modern, herbal, maupun obat tradisional lainnya oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit atau gejala penyakit.

Alasan masyarakat Indonesia melakukan swamedikasi karena keluhan yang dialami dianggap ringan, jarak yang lebih mudah dijangkau, dan faktor-faktor pendukung lainnya seperti periklanan produk obat, pengalaman mengkonsumsi suatu obat, kondisi ekonomi, riwayat pendidikan dan faktor lingkungan sekitar.

Swamedikasi memiliki resiko terhadap wanita hamil, terutama pada penggunaan oba-obat OTC. Penggunaan obat-obatan selama kehamilan merupakan dilema karena populasi yang rentan yaitu, wanita hamil dan anak-anak tidak dimasukkan dalam uji klinis obat. Oleh karena itu, tidak cukup data tentang efek obat tersebut pada kelompok rentan. Terlebih lagi, perilaku swamedikasi tidak sampai memperhitungkan keadaan yang berkaitan dengan interaksi antar obat, kehamilan, menyusui, penggunaan pada anak-anak dan orang tua, mengemudi, kondisi kerja, alkohol, atau makanan dibandingkan dengan obat yang diresep langsung oleh tenaga kesehatan yang berwenang.
Identifikasi faktor yang mempengaruhi swamedikasi dapat dilakukan penelitian dengan bantuan kuesioner.

Kuesioner adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur suatu peristiwa atau kejadian yang berisi kumpulan pertanyaan untuk memperoleh informasi terkait penelitian yang dilakukan. Tidak dipungkiri swamedikasi juga memiliki beberapa resiko terutama di negara berkembang dengan populasi yang memiliki tingkat pengetahuan kesehatan yang rendah memperbesar resiko penggunaan obat yang tidak tepat. Maka dari itu dilakukan penyuluhan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan sebagai bentuk pencegahan terjadinya dampak buruk dalam swamedikasi penggunaan obat secara tidak tepat.
Penyuluhan ini dilaksanakan secara tatap muka dengan menggukan metode One group pretest and postest design.

Pemberian materi dalam bentuk penyuluhan yang dimana siswa akan di kumpulkan dalam satu kelompok besar yang nantinya ada diberikan materi secara tatap muka dan interaktif. Materi yang disajikan adalah tentang Swamedikasi Penggunaan Obat yang meliputi pengertian, jenis obat berdasarkan logo, kesalahan, dan cara pencegahan.

Alat bantu yang digunakan selama penyuluhan berupa kusioner yaitu pre dan post kusioner dengan berisi 10 nomor soal, yang nantinya akan di jawab oleh siswa sebelum dan sesudah peyajian materi. Kusioner dibagikan secara daring pada saat penyuluhan agar memudahkan siswa dalam pengisian kusioner. Instrumen yang digunakan pada kegiatan ini adalah google from yang berisi pre-test dan post-test kusioner yang dibuat dengan menyesuaikan kriteria dan tingkat pengetahuan dari siswa.

Selain dari kusioner menggunakan cara interaktif dengan pemberian doorprize bagi siswa yang bertanya dan siswa yang menjawab beberapa pertanyaan yang diajuhkan sehingga terjadi komunikasi dua arah.

Adapun metode yang digunakan adalah metode One group pretest and postest design dimana siswa akan di kumpulkan dalam satu kelompok besar yang nantinya ada diberikan materi secara tatap muka dan interaktif pada suatu tingkat SMA Z. di Makassar.

Awalnya dari 19 siswa, sebanyak 8 siswa (42,1%) berada pada kategori “Kurang”. 6 siswa (31,%) berada pada kategori “Cukup”, dan 5 siswa (26,3%) yang berada pada kategori “Baik”. Setelah dilakukan penyuluhan, dari total 19 siswa tidak ada yang masuk dalam kategori “Kurang” hal ini menunjukkan bahwa siswa setidaknya telah mencapai pemahaman dasar tentang materi yang disampaikan.

Pada kategori “Cukup” sebanyak 3 siswa (16,7%) menunjukkan adanya perbaikan pengetahuan, meskipun masih ada beberapa siswa yang belum mencapai pemahaman penuh. Sedangkan siswa yang berada pada kategori “Baik” meningkat menjadi 16 siswa (83,3%). Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan ini juga berhasil menumbuhkan minat dan antusiasme siswa dalam belajar mengenai obat, cara penggunaannya, serta pentingnya berkonsultasi kepada tenaga kesehatan bila gejala tidak membaik.

Hasil kuesioner ini mengindikasikan bahwa penyuluhan telah berhasil meningkatkan pemahaman siswa secara signifikan. Sebelum penyuluhan, banyak siswa yang memiliki pengetahuan terbatas, tetapi setelah menerima edukasi, hampir seluruh siswa mencapai tingkat pengetahuan yang baik. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan efektif dalam menambah wawasan siswa-siswi

Ditulis Oleh : Rusdiaman, Andi Ummu Atika Mutmainnah, Anita Dwi Arya, Hilwa Aura Restu Zetya, Nurjannah, Nurul Watika, Putri Nisyah Azhara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *