Sorotkeadilan.id -Jakarta, Situasi keamanan di wilayah Papua Pegunungan kembali menjadi sorotan nasional setelah muncul pengakuan dari Ronald Hiluka yang menyatakan dirinya berada di balik aksi penyerangan brutal terhadap para pendulang emas di Distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.(28/05/2026)

Pengakuan tersebut beredar melalui rekaman pernyataan yang tersebar di media sosial dan disebut telah diterima aparat keamanan sebagai bagian dari proses penyelidikan atas kasus pembunuhan massal yang menewaskan sedikitnya 10 pendulang emas beberapa waktu lalu.

Dalam keterangannya, Ronald Hiluka menyebut kelompoknya melakukan penyerangan terhadap para pendulang emas yang dianggap memasuki wilayah operasi kelompok mereka. Pernyataan itu sekaligus memperkuat dugaan keterlibatan kelompok bersenjata yang selama ini beroperasi di wilayah pegunungan Papua.

Aparat TNI-Polri menduga aksi tersebut melibatkan kelompok yang dikenal sebagai KKB Batalyon Yamue. Kelompok itu disebut aktif bergerak di sejumlah wilayah rawan konflik di Papua Pegunungan dan beberapa kali dikaitkan dengan aksi kekerasan bersenjata terhadap warga sipil maupun aparat keamanan.

Pengakuan yang Menggemparkan

Beredarnya pengakuan Ronald Hiluka memicu perhatian luas masyarakat dan aparat keamanan. Dalam video maupun narasi yang beredar, Ronald Hiluka mengklaim penyerangan dilakukan sebagai bentuk peringatan terhadap aktivitas penambangan yang dianggap memasuki area yang mereka kuasai.

Pernyataan tersebut menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, khususnya warga yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pendulangan emas di wilayah pedalaman Papua Pegunungan.

Sejumlah tokoh masyarakat meminta semua pihak menahan diri dan tidak memperkeruh situasi yang sudah memanas. Mereka berharap aparat keamanan dapat segera memulihkan kondisi keamanan sehingga masyarakat sipil tidak kembali menjadi korban.

Operasi Damai Cartenz 2026 Tingkatkan Pengejaran

Pasca munculnya pengakuan tersebut, Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 langsung meningkatkan operasi pengejaran terhadap kelompok pimpinan Ronald Hiluka. Aparat memperluas patroli keamanan di sejumlah titik rawan dan memperketat pengawasan jalur masuk menuju kawasan pegunungan.

Selain itu, aparat juga melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh adat guna mencegah munculnya aksi susulan yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan masyarakat.

Sumber aparat keamanan menyebutkan medan geografis Pegunungan Bintang yang sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengejaran kelompok bersenjata tersebut. Kawasan hutan lebat dan pegunungan ekstrem membuat proses operasi membutuhkan strategi khusus serta dukungan logistik yang memadai.

Evakuasi Korban Berlangsung Dramatis

Sementara itu, proses evakuasi terhadap para korban berlangsung dramatis karena lokasi kejadian berada di wilayah terpencil yang hanya dapat dijangkau menggunakan jalur udara dan berjalan kaki berjam-jam melewati medan berat.

Tim gabungan TNI-Polri bersama tenaga medis dan pemerintah daerah terus melakukan pendataan terhadap korban meninggal maupun warga yang berhasil selamat dari serangan tersebut.

Beberapa korban selamat dilaporkan mengalami trauma berat akibat aksi penyerangan yang disebut berlangsung secara mendadak. Mereka kini mendapatkan pendampingan serta perlindungan dari aparat keamanan.

Pemerintah Minta Masyarakat Tetap Tenang

Pemerintah daerah Papua Pegunungan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang beredar di media sosial. Masyarakat diminta menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kasus kepada aparat keamanan.

Di sisi lain, sejumlah pemerhati Papua menilai peristiwa ini menunjukkan masih kompleksnya persoalan keamanan dan sosial di wilayah pedalaman Papua. Pendekatan keamanan dinilai perlu diimbangi dengan dialog, pembangunan, dan perhaRubahtian terhadap kesejahteraan masyarakat setempat.

Peristiwa penyerangan terhadap pendulang emas di Distrik Awimbon menjadi salah satu kasus kekerasan paling menyita perhatian publik sepanjang tahun 2026 di Papua Pegunungan. Aparat memastikan proses pengejaran terhadap pelaku akan terus dilakukan hingga seluruh pihak yang terlibat berhasil diamankan.

(Dhika)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *