Sorotkwadilan.id – Jakarta, Sebanyak 6.000 perempuan dan pelajar dengan busana kebaya, secara serentak melaksanakan aksi nyata pembuatan eco enzyme di 109 lokasi yang tersebar di Provinsi DKI Jakarta, terdiri dari 42 kecamatan dan 67 sekolah. Kamis (18/6/2026)
Kegiatan ini berhasil dicatat oleh MURI dan dinyatakan lolos proses validasi sebagai rekor nasional ” Pembuatan Eco Enzyme Terbanyak”.
Gerakan yang diinisiasi oleh Yayasan Sedulur Bunda Milenial bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta ini merupakan wujud kolaborasi dalam membangun kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah organik menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan.
Melalui pembuatan eco enzyme, masyarakat diajak memahami bahwa limbah organik rumah tangga tidak harus berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat diolah menjadi cairan multifungsi yang bermanfaat untuk mendukung kebersihan lingkungan, menjaga kualitas air, serta mendorong gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Kegiatan yang dilaksanakan serentak di lima wilayah kota administrasi DKI Jakarta ini menjadi bukti bahwa gerakan lingkungan dapat diwujudkan melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, sekolah, perempuan, dan generasi muda.
Ketua Umum Bunda Milenial, Sisca Rumondor, menyampaikan bahwa pencapaian ini bukan sekadar mengejar rekor, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat edukasi dan membangun budaya pengelolaan sampah organik dari lingkungan keluarga hingga sekolah.
“Harapan kami, gerakan ini menjadi awal dari perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah organik. Ketika dilakukan bersama-sama, langkah kecil akan menghasilkan dampak besar bagi kelestarian lingkungan,” ujar Sisca Rumondor.
Melalui Gerakan Nasional Bersih Sungai, Bunda Milenial bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap semangat kolaborasi ini terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat yang berperan aktif menjaga sungai dan lingkungan demi masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan memakai kebaya sebagai simbol bahwa pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan.
“Kebaya bukan sebagai pakaian tradisional, tetapi menjadi representasi jati diri perempuan Indonesia yang berkarakter, berdaya dan memiliki kepedulian terhadap sesama serta lingkungan”, lanjut Sisca yang selalu berkebaya di kegiatannya.
“Melalui gerakan ini, Bunda Milenial ingin menegaskan bahwa budaya memegang peranan penting dalam pembentukan karakter sekaligus menguatkan citra diri perempuan Indonesia di tengah tantangan jaman”, tutup Sisca pada awak media.
(Dandy)
