​Sorotkeadilan.id-Makassar, Hari Pelaut Sedunia (Day of the Seafarer) yang diperingati setiap tanggal 25 Juni menjadi momentum magis bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Bagi suku Bugis-Makassar, profesi pelaut bukan sekadar pekerjaan mencari nafkah, melainkan sebuah urat nadi kehidupan dan warisan leluhur yang mengalir dalam darah sejak era kejayaan perahu Pinisi.

​Peringatan tahun 2026 ini menyoroti kontribusi besar para pelaut modern asal Sulawesi Selatan yang mengisi posisi-posisi strategis di kapal-kapal logistik internasional, sembari tetap memegang teguh filosofi hidup Amanna Gappa—hukum laut adat Bugis yang diakui dunia sejak Jembatan abad ke-17.

1​ Logistik Dunia dan Tantangan Modernisasi

​Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaut-pelaut muda dari tanah Bugis kini tidak hanya mengandalkan ketangguhan fisik, tetapi juga keahlian teknologi maritim yang tinggi.

​”Pelaut kita hari ini menghadapi tantangan global yang berbeda; mulai dari digitalisasi navigasi hingga isu green shipping (pelayaran ramah lingkungan). Namun, etos kerja Siri’ na Pacce membuat pelaut kita dikenal sebagai kru kapal yang paling loyal, tangguh, dan disegani di dunia internasional,” ujarnya dalam konferensi maritim di Makassar.

​Menurut data Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) cabang Sulawesi Selatan, jumlah pelaut aktif asal Sulsel yang bekerja di kapal niaga domestik maupun luar negeri mengalami peningkatan sebesar 8% dalam dua tahun terakhir. Sektor ini menjadi salah satu penyumbang remitansi terbesar bagi perekonomian daerah.

Apresiasi untuk ‘Pahlawan Devisa’ yang Terlupakan

​Di balik gemerlapnya industri maritim, Hari Pelaut Sedunia juga menjadi pengingat bagi pemerintah dan perusahaan pelayaran untuk terus meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi para pelaut. Isu keselamatan kerja, kepastian upah, dan waktu sandar yang adil masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

​Dari Pinisi ke Kapal Kargo Raksasa.  Sejarah mencatat, pelaut Bugis telah menjelajah hingga ke pesisir Australia Utara (mengunjungi suku Aborigin) jauh sebelum bangsa Eropa datang. Kini, meski perahu kayu tradisional Pinisi telah bertransformasi menjadi kapal-kapal kargo raksasa berbasis baja, semangat penjelajah itu tidak pernah padam.

​”Menjadi pelaut adalah jalan hidup yang penuh pengorbanan. Berbulan-bulan jauh dari keluarga, bertaruh nyawa di tengah badai demi memastikan logistik dunia—termasuk bahan pangan dan energi yang kita nikmati hari ini—tetap berjalan lancar. Mereka adalah pahlawan devisa yang sesungguhnya,” ungkap Capt. Muhammad Yusuf, salah seorang nahkoda senior asal Bone.

​Melalui peringatan Hari Pelaut Sedunia 2026, Tanah Bugis kembali mengingatkan dunia: bahwa di tengah terjangan ombak dan badai sekalipun, layar telah terkembang, dan kemudi tidak akan pernah berbalik arah.

Selamat Hari Pelaut Sedunia. Lunaso Sompe’ku, Kuttopangngi Lino! (Layar perahuku sudah terkembang, akan kuseberangi dunia!)

DITULIS OLEH: apt. Rusdiaman. S.Si.,M.Si Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar

  1. ↩︎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *