Sorotkeadilan.id, Makassar-Setiap tanggal 1 Juli, Indonesia memperingati Hari Bhayangkara. Momentum ini bukan sekadar seremoni potong tumpeng atau parade baris-berbaris Korps Baju Cokelat. Lebih dari itu, Hari Bhayangkara adalah momen krusial untuk melakukan refleksi nasional: Sudah sejauh mana Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berdiri tegak sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, sebagaimana mandat UU No. 2 Tahun 2002?
Publik merindukan sosok polisi yang hadir membawa rasa aman. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa tantangan terbesar Polri hari ini adalah memulihkan kepercayaan publik dari stigma negatif yang kerap mencederai institusi.
Menolak Stigma “Pemeras Rakyat”. Slogan klasik “Rastra Sewakotama” yang berarti Abdi Utama bagi Nusa dan Bangsa, kadang kala terasa kontras ketika berhadapan dengan realita di lapangan. Istilah-istilah miring di media sosial-mulai dari fenomena viral hingga sindiran tentang “biaya perkara”-menjadi alarm keras.
Polisi tidak boleh menjadi momok yang menakutkan bagi dompet atau hak-hak sipil warga. Ketika seorang warga melaporkan kehilangan namun justru merasa “kehilangan lebih banyak”, di sanalah esensi pengayoman itu gugur.
Catatan Penting: Institusi Polri dibiayai oleh pajak rakyat. Oleh karena itu, setiap peluru, seragam, dan kendaraan operasional yang digunakan wajib berorientasi pada kepentingan dan keselamatan rakyat, bukan untuk menindas atau memeras mereka yang lemah.
Transformasi Menuju “Pengayom Sejati”. Guna mewujudkan Polri yang dicintai, diperlukan langkah konkret yang tidak sekadar kosmetik: Pembersihan Internal Tanpa Pandang Bulu: Tindakan tegas terhadap oknum yang melakukan pungli, pemerasan, atau penyalahgunaan wewenang harus dibuka transparan ke publik.
Optimalisasi Budaya Restorative Justice: Hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Pendekatan keadilan restoratif harus murni untuk kedamaian masyarakat, bukan ruang negosiasi di bawah meja.
Polisi Humanis, Bukan Militeristik: Masyarakat membutuhkan dialog dan perlindungan, bukan arogansi kekuasaan atau pamer senjata di depan warga sipil yang tak berdaya.
Komitmen Bersama untuk Masa Depan. Hari Bhayangkara harus dijadikan titik balik. Kita harus adil dalam menilai: di luar sana, masih banyak polisi jujur yang mengatur lalu lintas di bawah terik hujan, Bhabinkamtibmas yang membantu warga di pelosok desa, dan penyidik yang bekerja lurus demi keadilan. Dedikasi mereka tidak boleh tenggelam oleh ulah segelintir oknum.
Masyarakat tidak meminta kesempurnaan, melainkan integritas. Kita menginginkan polisi yang ketika datang, masyarakat merasa tenang-bukan malah merasa tegang.
Selamat Hari Bhayangkara. Mari bersama-sama menagih dan mendukung Polri untuk terus berbenah menjadi pengayom sejati masyarakat, bukan pemeras rakyat. Demi Indonesia yang aman, adil, dan bermartabat.
Ditulis oleh : apt.Rusdiaman, SSi.,M.Si. Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.
Drs.H.Ismail Ibrahim, M.Kes.,apt. Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.
