Sorotkeadilan.id, Makassar-Sebuah pertanyaan satir sekaligus menggelitik belakangan ini ramai menjadi perbincangan di kalangan pencinta sepak bola tanah air. Pertanyaan itu sederhana namun menohok: Kenapa Indonesia disebut tidak akan pernah masuk Piala Dunia sampai kapan pun, padahal pemain Argentina dan Indonesia sama-sama punya dua kaki, dua tangan, dan satu kepala?

​Secara anatomi tubuh, tidak ada perbedaan antara megabintang Lionel Messi dan para penggawa Timnas Indonesia. Namun, mengapa jurang prestasi antara kedua negara bak langit dan bumi?

​Para pengamat sepak bola dan ahli olahraga menilai, masalahnya bukan terletak pada jumlah organ tubuh, melainkan pada apa yang terjadi di dalam “kepala” dan bagaimana “kaki-tangan” tersebut dikelola sejak dini. Serta olahraga sepak bola tetap pada zona tunggal sepak bola tidak ada inseminasi politik dan lain-lain

​Berikut adalah beberapa faktor fundamental mengapa menyamakan fisik saja tidak cukup untuk membawa Garuda terbang ke pentas dunia: Pertama. Masalah “Isi Kepala”: Mentalitas dan Visi Bermain.

Pemain top dunia seperti di Argentina tidak hanya mengandalkan otot, tetapi juga kejeniusan taktik (football IQ). Sejak usia 6 tahun, mereka sudah diajarkan cara membaca ruang, kapan harus melepas umpan, dan bagaimana mengambil keputusan dalam sekian milidetik. Di Indonesia, pembinaan usia dini sering kali terlambat, sehingga saat dewasa, pemain kerap salah mengambil keputusan di lapangan.

Kedua. Pengelolaan Kaki dan Tangan: Kompetisi Usia Dini yang Sistematis

​Di Argentina, bakat-bakat muda berkompetisi di kompetisi resmi yang ketat setiap pekan sepanjang tahun. Struktur liganya jelas dari level sekolahan hingga profesional. Sementara di Indonesia, kompetisi kelompok umur masih sering bersifat musiman atau berbentuk turnamen pendek (home turnamen), yang membuat menit bermain pemain muda sangat minim.

Ketiga. Infrastruktur dan Gizi (Bukan Sekadar Makan)

​Sama-sama punya dua kaki, tetapi “bahan bakar” yang masuk ke tubuh berbeda. Atlet di negara maju sepak bolanya dipantau ketat perihal nutrisi, kadar lemak, hingga pola tidur sejak kecil. Ditambah lagi, fasilitas lapangan latihan di Indonesia yang standar internasional masih sangat terbatas dibandingkan dengan akademi-akademi di Amerika Latin atau Eropa. Keempat. Karut-Marut Manajemen Federasi dan Kompetisi

​Sering bergantinya regulasi, jadwal liga yang tidak sinkron dengan kalender FIFA, hingga isu-isu non-teknis di masa lalu menjadi batu sandungan besar. Tanpa adanya liga domestik yang sehat, bersih, dan kompetitif, mustahil bisa melahirkan tim nasional yang tangguh secara instan.

Fokus :”Indonesia tidak akan pernah ke Piala Dunia sampai kiamat” tentu saja sebuah hiperbola dan pesimisme ekstrem.

Saran, dengan proyeksi transformasi sepak bola saat ini-mulai dari perbaikan Liga, pencarian bakat keturunan (naturalisasi) yang masif, hingga pembenahan kompetisi usia muda, yang merata ke seluruh wilayah NKRI sehingga peluang itu tetap ada, meski jalannya teramat terjal.

Kesimpulannya, sepak bola modern bukan lagi sekadar permainan fisik 11 lawan 11 yang sama-sama punya dua kaki. Sepak bola adalah industri, sains, dan investasi jangka panjang. Selama Indonesia hanya mengandalkan “bakat alam” tanpa sistem yang benar, maka kuota Piala Dunia akan selalu menjadi milik mereka yang mengolah kepala dan kaki mereka dengan profesional disertai fasilitas premium, kepengurusan tunggal sepak bola yang haram hukumnya dimasuki badan lain seperti keperluan politik dan lain-lain.

Ditulis oleh : apt. Rusdiaman, S.Si.,M.Si. Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *