Sorotkeadilan.id, Banjarmasin-Sejak dahulu kala menjuluki dirinya sebagai “Kota Seribu Sungai”. Ratusan alur anak sungai Martapura dan Barito membendung, membelah, dan menghidupkan urat nadi ekonomi, budaya, serta transportasi masyarakat Banjar. Namun, keindahan dan keberlanjutan tradisi ini menghadapi tantangan nyata: bahaya pencemaran sampah dan limbah akibat tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Bagaimana kita bisa memastikan air di ribuan sungai Banjarmasin tetap bersih, jernih, dan bebas dari ulah oknum yang merusak?
Tantangan Nyata di Perairan Banua. Seiring pertumbuhan kota dan dinamika pemukiman bantaran sungai, timbulan sampah domestik menjadi ancaman utama. Masih ada sebagian kecil oknum masyarakat atau pihak industri rumah tangga yang menganggap sungai sebagai “tempat sampah raksasa”.Apa akibatnya ?
Penumpukan Sampah Plastik: Menyumbat aliran anak sungai dan merusak pemandangan pasar terapung.Penurunan Kualitas Air: Limbah domestik langsung menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air (dissolved oxygen).Pendangkalan Alur: Sedimentasi memicu banjir saat curah hujan tinggi atau pasang air laut.
Langkah Nyata Menjaga Kebersihan Sungai. Menjaga air sungai tetap bersih bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan gerakan kolektif seluruh warga. Beberapa strategi vital yang terus digaungkan meliputi:
Penegakan Hukum dan Pengawasan Tegas. Cukup sudah imbauan tanpa aksi. Pemerintah Kota Banjarmasin bersama aparat penegak hukum perlu menerapkan sanksi tegas serta denda bagi siapa saja yang kedapatan membuang sampah langsung ke sungai. Pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik rawan pembuangan ilegal juga bisa menjadi langkah preventif yang efektif.
Optimalisasi “Pasukan Yellow” dan Komunitas Sungai. Peran petugas kebersihan sungai (Pasukan Kuning/Pasukan Muara) serta komunitas peduli sungai perlu terus didukung. Program penyisiran sampah rutin di anak-anak sungai terbukti mampu menekan volume sampah yang masuk ke alur utama Sungai Martapura.
Edukasi Budaya dan Kesadaran Masyarakat. Mengembalikan pilar budaya Banjar yang menyayangi sungai. Rumah-rumah panggung di bantaran sungai harus dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan sampah mandiri dan tempat penampungan sementara (TPS) darat, sehingga tidak ada lagi alasan praktis untuk melemparkan kantong sampah ke air.
Mendorong Kolaborasi Edukasi & Teknologi. “Sungai bukanlah halaman belakang tempat membuang sisa, melainkan teras depan tempat kita menyambut kehidupan.”
Untuk mewujudkan kebersihan jangka panjang, beberapa inovasi praktis dapat diterapkan:Jaring Perangkap Sampah (Trash Trap): Dipasang di mulut anak sungai untuk menahan sampah sebelum masuk ke sungai besar.
Bank Sampah Bantaran: Mengajak warga menukarkan sampah plastik bernilai ekonomi sehingga sampah tidak berakhir di air. Edukasi Generasi Muda: Mengintegrasikan kurikulum muatan lokal tentang kelestarian ekosistem sungai sejak tingkat sekolah dasar.
Wujud Cinta untuk Banua. tMewujudkan 1.000 sungai Banjarmasin yang tetap bersih dari kotoran tangan tak bertanggung jawab bukanlah hal yang mustahil. Ketika pemerintah konsisten dalam penegakan aturan dan masyarakat kembali menjadikan sungai sebagai kebanggaan, air sungai Banjarmasin akan tetap mengalir jernih—membawa berkah bagi anak cucu kita kelak.Mari jaga sungai kita, ada rupa ada harga, demi Banjarmasin yang lestari indah, sehat dan berkelanjutan.
Ditulis oleh : apt. Rusdiaman, SSi.,M.Si. pemerhati lingkungan Indonesia.

