Sorotkeadilan.id – MAKASSAR— Pemerintah bersama para akademisi dan pelaku industri kesehatan tengah serius menggodok formulasi Jamu Nasional sebagai terapi pendamping (complementary medicine) obat modern. Langkah strategis ini diintegrasikan dengan ekosistem digital guna mempercepat kemandirian bahan baku obat di Indonesia.
Ketua Konsorsium Jamu Nasional menyatakan bahwa digitalisasi menjadi kunci utama untuk membawa ramuan tradisional naik kelas. Melalui pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan-Artificial Intelligence. Formulasi jamu kini tidak lagi hanya bersandar pada tradisi turun-temurun, melainkan berbasis pada bukti ilmiah yang terukur (evidence-based medicine).
Jamu tidak hadir untuk menggantikan obat modern (medis), melainkan sebagai komplementer yang mempercepat proses penyembuhan dan menjaga promotif-preventif kesehatan masyarakat. Dengan digitalisasi, kita bisa memetakan efikasi dan standardisasi formulasinya secara presisi.
Integrasi Teknologi dan Standardisasi
Tantangan terbesar jamu selama ini adalah standardisasi khasiat. Melalui platform digital yang sedang dikembangkan, seluruh mata rantai produksi—mulai dari petani tanaman obat, proses ekstraksi di laboratorium, hingga distribusi ke masyarakat—dapat dipantau secara real-time.
Beberapa hal penting dalam digitalisasi formulasi jamu nasional ini meliputi:
E-Formularium Jamu: Digitalisasi dokumen resep dan khasiat tanaman obat asli Indonesia yang telah teruji klinis agar mudah diakses oleh tenaga medis.
Telemedisin Terintegrasi: Mendorong dokter untuk dapat meresepkan Herbal Terstandardisasi (OHT) atau Fitofarmaka resmi sebagai pendamping obat kimia melalui aplikasi layanan kesehatan.
Traceability (Ketertelusuran): Penggunaan teknologi blockchain atau QR code untuk memastikan keamanan konsumen terkait asal-usul bahan baku jamu.
Menekan Impor Bahan Baku Obat
Ketergantungan Indonesia terhadap Impor Bahan Baku Obat (BBO) kimia saat ini masih berada di angka yang cukup tinggi. Kehadiran Formulasi Jamu Nasional yang terdigitalisasi diharapkan mampu menjadi solusi substitusi yang efektif.
Menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies tumbuhan, namun baru sebagian kecil yang dimanfaatkan secara optimal untuk industri farmasi.
Dengan dorongan regulasi yang kuat dan kemudahan akses digital, jamu nasional diproyeksikan tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu menembus pasar global sebagai produk kesehatan modern berbasis kearifan lokal. Ke depan naturalisasi jamu nasional tidak tersaingi oleh formula bahan alam dari luar. Hari Jamu Nasional diperingati setiap tanggal 27 Mei.
Peringatan ini pertama kali dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2008. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap jamu sebagai kearifan lokal, melestarikan warisan budaya bangsa, serta mempromosikan gaya hidup sehat lewat minum jamu.
Bahkan, sejak Desember 2023, budaya sehat jamu Indonesia sudah resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage).
Ditulis oleh Pemerhati Jamu Nasional : apt. Rusdiaman, S.Si.,M.Si. Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar
