Diskusi kebangsaan kita belakangan ini dipenuhi oleh satu frasa magis: Indonesia Emas 2045. Sebuah era di mana tepat satu abad setelah merdeka, Indonesia diprediksi akan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) dan bertransformasi menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Kita bangga memamerkan bonus demografi, di mana usia produktif mendominasi populasi.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang sering luput dari meja-meja diskusi teknokratis: Siapa yang akan menakhodai kapal besar ini?
Membangun generasi emas tidak sekadar mencetak jutaan sarjana teknik, ahli kecerdasan buatan (AI), atau melahirkan ribuan startup unicorn. Jika indikatornya hanya kecerdasan intelektual dan penguasaan teknologi, sejarah mencatat banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena krisis moral para pengambil kebijakannya.
Oleh karena itu, prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar untuk mewujudkan Indonesia Emas adalah hadirnya para pengambil kebijakan yang memiliki sifat “takut pada Tuhannya”.
Makna Hakiki “Takut pada Tuhan” dalam Ruang Publik
Frasa “takut pada Tuhan” sering kali disalahpahami secara sempit, seolah-olah ini hanya urusan ritual ibadah di ruang privat. Dalam konteks tata kelola negara (governance), sifat ini adalah jangkar moral tertinggi.
Ketika seorang pejabat publik memiliki rasa takut kepada Sang Pencipta, terjadi pergeseran paradigma yang fundamental dalam dirinya:
- Jabatan sebagai Amanah, Bukan Hak: Kekuasaan tidak lagi dilihat sebagai privilese untuk memperkaya diri atau kelompok, melainkan beban tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan hukum manusia, tetapi di pengadilan Ilahi.
- Adanya Invisible Supervisor (Pengawas Gaib): Integritas sejati adalah melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada kamera wartawan, tidak ada KPK, atau tidak ada mata publik yang mengawasi. Rasa takut pada Tuhan menciptakan sistem pengawasan internal yang melekat 24 jam dalam sanubari seorang pemimpin.
“Korupsi, manipulasi kebijakan, dan pemiskinan struktural terjadi justru ketika manusia merasa menjadi tuhan bagi dirinyavi, Sese sendiri—merasa tidak ada kekuatan yang lebih tinggi yang mengawasi dan mampu menghukumnya.”
Dilema Generasi Emas tanpa Jangkar Moral
Mari kita bayangkan skenario terburuk. Apa yang terjadi jika generasi muda kita tumbuh menjadi manusia-manusia yang sangat cerdas secara akademik, menguasai teknologi mutakhir, namun dipimpin oleh para teknokrat yang amoral?
- Eksploitasi, Bukan Eksplorasi: Kebijakan lingkungan akan didasarkan pada keserakahan jangka pendek. Hutan dibabat, laut dicemari, atas nama pertumbuhan ekonomi yang angkanya indah di atas kertas, namun menyengsarakan rakyat di lapangan.
- Hukum yang Transaksional: Kecerdasan hukum hanya akan digunakan untuk mencari celah (loopholes) guna melegalkan tindakan yang tidak etis. Undang-undang diproduksi bukan untuk keadilan publik, melainkan untuk melayani kepentingan segelintir elit (oligarki).
- Ketimpangan Sosial yang Ekstrem: Tanpa empati spiritual, kebijakan ekonomi akan cenderung bersifat “kanibal”, di mana yang kuat memangsa yang lemah, menjauhkan kita dari sila kelima Pancasila.
Kita tidak sedang membutuhkan generasi yang “emas” di kulitnya saja, tetapi keropos di dalamnya. Kita butuh generasi yang memiliki kekuatan intelektual barat, namun memiliki hati yang kokoh dengan spiritualitas timur.
Mewujudkan Sila Pertama dalam Kebijakan Nyata
Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, bukanlah pajangan dinding. Sila ini adalah dasar filosofis yang melandasi empat sila lainnya. Seseorang tidak akan bisa memimpin dengan berperikemanusiaan yang adil dan beradab (Sila 2) jika ia tidak menempatkan Tuhan di atas egonya.
Pengambil kebijakan yang takut pada Tuhan akan melahirkan kebijakan yang inklusif dan humanis. Mereka akan memastikan:
- Setiap rupiah pajak rakyat kembali untuk kesejahteraan rakyat (pendidikan berkualitas, faskes yang layak).
- Merumuskan undang-undang dengan mendengar jeritan hati masyarakat paling bawah, bukan pesanan korporasi.
- Menjaga toleransi dan keberagaman, karena mereka sadar bahwa seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan yang wajib dihormati hak-haknya.
Catatan Penutup: Menatap 2045
Menuju tahun 2045, tantangan bangsa ini akan semakin kompleks. Kita akan menghadapi disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan geopolitik global yang tidak menentu. Menghadapi semua itu dengan kecerdasan kognitif saja adalah bunuh diri massal.
Sudah saatnya kita mengembalikan standar moral dalam memilih dan mendidik calon-calon pengambil kebijakan kita. Kita butuh pemimpin yang berlutut di hadapan Tuhannya di malam hari, agar mereka mampu tegak berdiri menghadapi segala bentuk intimidasi dan godaan korupsi di siang hari.
Hanya dengan perpaduan antara generasi yang cerdas dan pengambil kebijakan yang takut pada Tuhannya, Indonesia Emas bukan lagi sekadar jargon politik atau utopia di atas kertas, melainkan sebuah takdir sejarah yang akan kita jemput dengan penuh berkah.
Oleh apt. Rusdiaman, SSi ,M.Si. Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar
