Sorotkeadilan.id, Makassar-Langkah Pemerintah Republik Indonesia dalam mempercepat transformasi digital dinilai menjadi kunci utama untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) menuju negara maju. Digitalisasi kini bukan lagi sekadar pilihan atau tren sesaat, melainkan pilar strategis nasional dalam menyokong pertumbuhan ekonomi, efisiensi birokrasi, dan pemerataan kesejahteraan demi mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.
Akselerasi digital yang masif di berbagai lini—mulai dari integrasi layanan publik melalui sistem pemerintahan berbasis elektronik, ekspansi industri kreatif, hingga digitalisasi sektor UMKM—kian mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain utama ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.
Lompatan Besar Ekonomi Digital Nasional. Transformasi ini tidak lepas dari adopsi teknologi yang luar biasa oleh masyarakat. Berdasarkan data lanskap digital terbaru, nilai ekonomi digital (Gross Merchandise Value/GMV) Indonesia telah menembus US$ 99 miliar (setara lebih dari Rp1.500 triliun), dengan sektor e-commerce sebagai motor penggerak utama yang menyumbang lebih dari 70% dari total nilai tersebut.
Tidak hanya itu, inklusi keuangan di tanah air juga mengalami lompatan besar. Nilai transaksi pembayaran digital di Indonesia kini melesat hingga mencapai US$ 538 miliar, didorong oleh penetrasi sistem pembayaran terintegrasi seperti QRIS yang telah menjangkau hingga ke pedagang pasar tradisional di pelosok daerah.
Kemajuan ini ditopang oleh modal sosial yang kuat, di mana jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia telah menyentuh angka 190 juta orang. Menariknya, masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan waktu rata-rata hingga 8 jam 30 menit per hari untuk mengakses internet, dengan 96% di antaranya menggunakan perangkat smartphone. Tingginya ketergantungan positif terhadap internet ini menjadi ceruk pasar sekaligus ruang inovasi yang sangat potensial bagi para pelaku industri digital domestik.
Penguatan Infrastruktur dan Kecakapan Digital. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus memprioritaskan pembangunan infrastruktur digital yang merata, khususnya di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Pemerataan sinyal dan penyediaan internet cepat menjadi fondasi agar digitalisasi tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan, tetapi juga menjadi alat pengetasan kemiskinan dan pemerataan pendidikan di desa-desa.
Sejalan dengan pembangunan infrastruktur, indeks literasi dan kecakapan digital masyarakat juga menunjukkan tren peningkatan positif melalui pemantauan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI).
”Digitalisasi yang inklusif adalah kunci. Kita tidak hanya membangun infrastruktur fisik seperti tol langit atau jaringan fiber optik, tetapi juga membangun kapasitas manusianya agar siap menjadi produsen inovasi, bukan sekadar konsumen teknologi,” ungkap perwakilan pemerintah dalam sebuah forum koordinasi nasional publik baru-baru ini.
Tantangan Menuju 2045. Kendati menunjukkan performa yang impresif, jalan menuju Indonesia Emas 2045 lewat jalur digital masih dihadapkan pada sejumlah tantangan klasik. Kebutuhan akan jutaan talenta digital terampil (digital talent gap), penguatan keamanan siber (cybersecurity), serta kepastian regulasi perlindungan data pribadi menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta.
Dengan sisa waktu menuju dua dekade mendatang, konsistensi dalam mengesekusi peta jalan (roadmap) transformasi digital secara berkelanjutan akan menentukan apakah Indonesia mampu mengonversi bonus demografi menjadi lonjakan ekonomi yang substantif. Jika momentum ini terjaga, target menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045 bukan lagi sekadar impian di atas kertas.
Ditulis oleh : Rusdiaman, Pemerhati Penderitaan Rakyat untuk Lepas dari Kemiskinan ekonomi.
