Sorotkeadilan.id – Makassar , Di tengah dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu, posisi tawar sebuah negara tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau luas wilayahnya. Kekuatan militer dan kemandirian pertahanan kini menjadi pilar utama jika Indonesia ingin benar-benar berdiri tegak dan disegani di panggung internasional.
Langkah memperbesar dan memodernisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah urgensi strategis.
Tantangan Geopolitik di Depan Mata. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di persimpangan jalur perdagangan internasional Dimana Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) “jalan tol laut”, Indonesia memiliki kerentanan sekaligus potensi yang luar biasa. Ketegangan di Laut Natuna Utara serta rivalitas kekuatan besar di kawasan Asia-Pasifik menuntut TNI untuk memiliki “taring” yang lebih tajam.
“Diplomasi tanpa kekuatan militer yang kuat itu seperti musik tanpa instrumen. Kita bisa bicara perdamaian, tetapi dunia baru akan mendengar jika kita punya daya tangkal (deterrence effect) yang nyata.”
Tiga Alasan Utama Alutsista Harus Diperbesar dan Dimajukan. Guna menjadi pemain kunci yang disegani, ada tiga aspek krusial yang dipenuhi melalui modernisasi alutsista: Meningkatkan-Deterrence Effect (Daya Tangkal): Negara lain akan berpikir dua kali untuk mengusik kedaulatan atau mengklaim wilayah Indonesia jika kita memiliki armada tempur yang modern dan siap sedia.
Menjaga Kekayaan Alam: Banyak Kerugian akibat illegal fishing, penyelundupan, dan pelanggaran wilayah udara bisa ditekan drastis jika teknologi radar, jet tempur, dan kapal selam kita mampu mengawasi setiap jengkal Nusantara. Kemandirian Industri Pertahanan Dalam Negeri: Memajukan alutsista tidak berarti terus-menerus membeli dari luar negeri. Ini adalah momentum untuk transfer teknologi (ToT) agar industri lokal seperti PT Perusahaan Industri Angkatan Darat (PINDAD), PT Penataran Angkatan Laut (PAL), dan PT Dirgantara Indonesia (Dulu dikenal dengan nama IPTN – Industri Pesawat Terbang Nusantara) (DI) bisa naik kelas.
Peta Jalan Modernisasi: Kuantitas dan Kualitas, ini akan memperbesar alutsista tidak hanya berbicara tentang jumlah, tetapi juga tentang lompatan teknologi. Indonesia perlu fokus pada beberapa sektor strategis berikut: Sektor Matra Laut diprioritaskan Pengembangan Kapal selam kelas mumpuni, kapal frigat, dan KRI bersenjata rudal canggih. Menjaga kedaulatan laut dalam dan jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia. Matra Udara Dimana Jet tempur generasi 4.5 ke atas seperti Rafale dan F-15EX. Pencapaian memperkuat sistem pertahanan udara Nasional (Sishanudnas). Supremasi udara dan respons cepat terhadap ancaman asing. Teknologi Siber & Dron. Pencapaian Pengembangan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sebagai pengintai dan tempur, serta pertahanan siber. Pencapaian Efisiensi biaya dan adaptasi terhadap perang modern (cyber warfare).
Menatap Masa Depan: Bukan Gagah-gagahan, tapi Kedaulatan. Anggaran pertahanan seringkali diperdebatkan, namun publik perlu memahami bahwa investasi pada alutsista adalah investasi pada stabilitas. Tanpa stabilitas keamanan, pertumbuhan ekonomi setinggi apa pun akan rapuh.
Jika Indonesia konsisten memperbesar porsi anggaran pertahanan secara bijak, mempercepat peremajaan senjata, dan serius membangun industri pertahanan lokal, maka target menjadi kekuatan yang disegani di dunia bukan lagi sekadar mimpi di tahun-tahun mendatang. Indonesia tidak berniat menjajah, tetapi Indonesia tidak boleh dijajah oleh siapa pun.
Presiden RI saat tepat dari ABRI dan mengetahui program kekutan negara kita dalam mempertahankan negara dalam masa persenjataan canggih secara global. Untuk benar-benar “maju”, APBN kita harus konsisten mengunci anggaran pertahanan di angka minimal 1,5% dari PDB (sekitar Rp330+ Triliun) kalaupun bisa diatas 400 Triliun selama 5 hingga 10 tahun ke depan untuk menjadi negara superpower alutista di Asia.
Uang sebesar itu harus dikawal ketat agar tidak bocor korupsi, dan yang terpenting: sebagian besar wajib dibelanjakan ke industri dalam negeri (PT Pindad, PT PAL, PT DI) lewat skema transfer teknologi agar ekosistem ekonomi kita juga ikut berputar. Insya Allah kitab isa maju juga bersama negara yang tidak sombong.
Ditulis Oleh : apt. Rusdiaman, S.Si.,M.Si. Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.
