Sorotkeadilan.id. Makassar-Pendahuluan.Nyeri leher dan lengan adalah kondisi umum yang sering dialami oleh masyarakat. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang dan mengganggu aktivitas sehari-hari (Tariq dkk. 2020) Nyeri leher dan lengan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk cedera fisik, postur yang buruk, stres, dan faktor lingkungan. Prevalensi kasus nyeri leher dan lengan di masyarakat cukup tinggi, terutama di kalangan pekerja kantor yang sering menggunakan komputer atau perangkat elektronik dalam waktu yang lama (Jatmika, Fachrin, dan Sididi 2022)
Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya nyeri leher dan lengan antara lain adalah postur yang tidak ergonomis saat bekerja, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, dan kebiasaan merokok. Selain itu, stres juga dapat menjadi faktor pemicu nyeri leher dan lengan (Natashia dan Makkiyah 2023). Oleh karena itu perlu dipahami kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat juga perlu dianalisis, termasuk tingkat pendidikan, taraf hidup, kebiasaan hidup sehari-hari, dan faktor-faktor lain yang dapat berdampak pada kasus nyeri leher dan lengan[6]. Selain pemahaman tentang kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, perlu dilakukan identifikasi permasalahan terkait nyeri leher dan lengan yang menjadi krusial dalam analisis situasi wilayah. Hal ini meliputi faktor risiko, tingkat kesadaran masyarakat, serta ketersediaan layanan kesehatan yang memadai.
Dampak dari nyeri leher dan lengan dapat sangat mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang. Nyeri yang terus menerus dapat menghambat aktivitas fisik dan mengganggu kualitas tidur. Selain itu, gejala yang sering terjadi adalah kaku pada leher dan lengan, kesemutan atau mati rasa, serta ketegangan otot. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, nyeri leher dan lengan dapat menjadi kronis dan mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis situasi kasus ini agar dapat memberikan solusi yang efektif bagi masyarakat yang menderita nyeri leher dan lengan. Hasil analisis permasalahan yang kami lakukan pada kelurahan Berua, diperoleh data 85% masyarakat belum memahami bagaimana mencegah, terlebih mengatasi masalah nyeri leher dan lengan pada saat mereka mengalaminya.
Untuk mengatasi nyeri leher dan lengan, ada beberapa langkah penanganan yang dapat dilakukan. Pertama, perubahan pola hidup menjadi lebih aktif secara fisik sangat disarankan. Melakukan olahraga ringan, seperti peregangan dan latihan kekuatan, dapat membantu mengurangi nyeri dan memperkuat otot-otot yang terlibat [7]. Selain itu, penting untuk menghindari posisi yang tidak ergonomis saat bekerja atau menggunakan perangkat elektronik. Posisi duduk yang benar, penggunaan bantal yang mendukung leher, dan pengaturan ketinggian meja dan kursi yang sesuai dapat membantu mengurangi tekanan pada leher dan lengan. Pencegahan juga merupakan hal penting dalam mengatasi nyeri leher dan lengan. Menjaga postur yang baik saat bekerja, menghindari gerakan yang berulang-ulang, serta mengelola stres dengan baik dapat membantu mencegah terjadinya nyeri leher dan lengan [8].
Dalam menangani nyeri leher dan lengan, upaya masyarakat sangatlah penting. Peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga postur yang baik saat bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari harus menjadi fokus utama. Melakukan peregangan secara teratur dan menjaga aktivitas fisik yang cukup juga dapat membantu mencegah terjadinya nyeri leher dan lengan. Peran tenaga kesehatan juga sangat penting dalam analisis situasi kasus ini. Mereka dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan dan penanganan nyeri leher dan lengan yang benar. Selain itu, mereka juga dapat memberikan terapi fisioterapi secara sederhana dan pengobatan yang sesuai untuk mengurangi nyeri[7].
Berdasarkan analisis situasi dan kondisi masyarakat tersebut di atas disertai masalah yang dialami, maka perlu dituangkan suatu upaya mengatasi masalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana secara sederhana mengatasi atau menangani jikalau mengalami nyeri leher dan lengan serta bagaimana cara mencegahnya, sehingga tujuan pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah pertama meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya perawatan dan pencegahan nyeri leher dan lengan. Hal ini dilakukan melalui penyuluhan, kampanye kesehatan, serta pendekatan komunitas. Kedua adalah kegiatan pengabdian yang bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan fisioterapi yang berkualitas. Ini melibatkan kerjasama dengan fasilitas kesehatan, pelatihan tenaga kesehatan, termasuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam melakukan terapi latihan dalam mengatasi masalah yang terjadi akibat timbulnya nyeri pada leher dan lengan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kegiatan ini dilakukan dengan memberikan penyuluhan dan workshop kepada mitra.
Permasalah Prioritas. Nyeri leher dan lengan adalah kondisi medis yang seringkali dihadapi oleh masyarakat, baik yang disebabkan oleh aktivitas sehari-hari maupun oleh kondisi medis tertentu. Permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat yang mengalami nyeri leher dan lengan sangat kompleks, dan memerlukan pendekatan holistik untuk penanganannya. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat yang mengalami nyeri leher dan lengan adalah keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Nyeri yang terus-menerus dapat mengganggu kualitas hidup seseorang, membuatnya sulit untuk melakukan tugas-tugas biasa seperti bekerja, berolahraga, atau bahkan tidur dengan nyaman. Hal ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi pada penderitanya. Selain itu, permasalahan lain yang seringkali muncul adalah ketidakmampuan untuk memperoleh diagnosis yang tepat. Nyeri leher dan lengan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari cedera otot dan saraf hingga gangguan tulang belakang dan penyakit autoimun. Proses untuk mendapatkan diagnosis yang akurat seringkali memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit, terutama di daerah di mana akses terhadap layanan kesehatan mungkin terbatas [2] Selain itu, permasalahan akses terhadap perawatan yang memadai juga menjadi isu utama. Banyak masyarakat, terutama di daerah pedesaan atau berpenghasilan rendah, menghadapi kesulitan dalam memperoleh perawatan yang sesuai untuk nyeri leher dan lengan. Fasilitas kesehatan yang memadai mungkin tidak tersedia di sekitar mereka, dan biaya untuk konsultasi medis, tes diagnostik, dan perawatan jangka panjang dapat menjadi beban finansial yang berat [9] Lebih lanjut, stigma terhadap kondisi nyeri kronis juga merupakan permasalahan yang seringkali dihadapi oleh masyarakat. Banyak yang menganggap nyeri leher dan lengan sebagai masalah yang sepele atau bahkan menganggap penderitanya sebagai “pemalas” karena kesulitan dalam melakukan aktivitas. Hal ini dapat menyulitkan bagi penderitanya untuk mendapatkan dukungan emosional dan sosial yang mereka butuhkan dalam proses pemulihan.
Dalam menghadapi permasalahan kesehatan yang kompleks ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan terkoordinasi. Pendidikan masyarakat mengenai pentingnya perawatan kesehatan yang tepat, termasuk penanganan nyeri leher dan lengan, sangat penting untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran akan kondisi ini. Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas juga perlu ditingkatkan, baik melalui pengembangan fasilitas kesehatan maupun program-program bantuan keuangan. Penting pula untuk memperhatikan pendekatan holistik dalam penanganan nyeri leher dan lengan, yang mencakup tidak hanya pengobatan medis dan fisioterapi, tetapi juga aspek psikologis, sosial, dan gaya hidup penderita. Dukungan keluarga, teman, dan masyarakat juga sangat berperan dalam membantu penderita mengatasi permasalahan kesehatan yang mereka hadapi. Dengan kesadaran yang meningkat dan upaya bersama untuk meningkatkan akses dan kualitas perawatan kesehatan, maka salah satu cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan di atas, adalah dengan melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, sebagai salah satu metode untuk mendekatkan diri pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Solusi Permasalahan. Karena masalah yang terjadi pada mitra adalah masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam melaksanakan terapi secara sederhana dan mandiri terhadap masalah nyeri leher dan lengan, maka perlu dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan dan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam melakukan terapi latihan secara sederhana di rumah sebagai tindakan pendahuluan dalam mengatasi masalah akibat nyeri leher dan lengan.
Kegiatan untuk mengatasi masalah mitra ini dilakukan berupa pemberian penyuluhan tentang nyeri leher dan lengan dan dampaknya terhadap kehidupan. Kegiatan ini juga disertai pelatihan berupa peragaan bagaimana melakukan terapi latihan secara sederhana yang dilakukan di rumah untuk mengatasi masalah nyeri leher dan lengan. Materi kegiatan ini dilakukan berdasarkan kelompok masalah agar mitra dapat dengan mudah memahami dan bagaimana cara mengatasinya secara sederhana dirumah.
Metode Pelaksanaan. Adapun metode pengabdian masyarakat yang dilakukan dapat digambarkan sebagai berikut:
Mitra adalah masyarakat di kelurahan Berua yang bekerja atau beraktifitas seharian dirumah, baik yang mengalami nyeri leher maupun yang tidak mengalami nyeri pleher. Mitra yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini seluruhnya berjumlah 65 orang mitra.
Kegiatan dilakukan berupa pemberian penyuluhan tentang nyeri leher dan lengan serta dampaknya terhadap kehidupan dan bagaimana mengatasi nyeri leher dan lengan dengan melakukan terapi latihan secara mandiri. Kegiatan ini juga disertai pelatihan berupa peragaan bagaimana melakukan terapi fisioterapi dengan terapi latihan sederhana di rumah guna mengatasi masalah yang ditimbulkan nyeri leher dan lengan. Bentuk penyuluhan dan pelatihan ini dipilih karena dapat secara langsung dialami dan dirasakan oleh mitra bagaimana cara dapat mengatasi masalahnya. Penyuluhan dan pelatihan merupakan konsep the diffusion model (one-waymonologic communication) yang bersifat partisipasi dengan konsultasi melalui kegiatan pendampingan. Konsep difusi diterapkan karena masalah yang muncul dilapangan karena adanya kekurangan informasi dan menempatkan budaya sebagai hambatan dalam perubahan sosial. Oleh karena itu diperlukan adanya agen perubahan dari pihak luar (external change agent) yang menempatkan masyarakat atau mitra sebagai pihak yang pasif sehingga memerlukan komunikasi yang persuasive sehingga dapat diperoleh adanya perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku pada mitra (individu) pada rentang waktu yang pendek
Evaluasi kegiatan dilakukan dua kali, yaitu sebelum diberikan penyuluhan dan pelatihan (pretest) dan setelah diberikan penyuluhan dan pelatihan baik secara class room maupun secara individu. Kegiatan penerapan latihan secara individu diberikan secara berulang sebanyak 6 kali kemudian dilakukan evaluasi (posttest). Hasil evaluasi akan menjadi kesimpulan keberhasilan kegiatan pengabdian masyarakat ini.
Hasil dan Pembahasan. Berikut adalah hasil dari berbagai kegiatan pengabdian masyarakat:
a. Karakteristik Mitra
Tabel 1. Karakteristik Mitra di Kelurahan Berua, Kota Makassar

Berdasarkan hasil analisis deskriptif, yang ditunjukkan pada Tabel 1 di atas, usia para mitra berkisar antara 36 hingga 60 tahun. Usia tertinggi adalah antara 56 hingga 60 tahun, yaitu 10 orang, atau 16,67%, dan usia terendah adalah antara 36 hingga 40 tahun, yaitu 7 orang, atau 11,66%. Karakteristik usia para mitra umumnya berada pada usia produktif. Untuk variabel pendidikan, tingkat pendidikan S1, yaitu 27 orang atau 45%, tingkat pendidikan SMA yaitu 21 orang atau 35%, Diploma-3 sebanyak 7 orang atau 11,67%, dan Strata 2 – Strata 3 adalah yang terendah, yaitu 5 orang atau 8,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karakteristik usia para mitra umumnya berada pada usia produktif dengan tingkat pendidikan tertinggi adalah Strata 1.
Nyeri leher dan lengan sangat dipengaruhi oleh usia, serta aktivitas sehari-hari, karena fungsi otot menurun seiring bertambahnya usia, terutama otot punggung yang menerima beban berat (Beatrice Alberta dkk. 2021). Berbagai gangguan muskuloskeletal, seperti nyeri leher dan lengan, dapat terjadi pada orang di segala usia. Namun, karena perubahan fisik dan mental yang terjadi pada usia 41 hingga 45 tahun dan bahkan lebih dari 45 tahun, masalah ini semakin memburuk pada orang dewasa. (Natashia dan Makkiyah pada tahun 2023). Usia memengaruhi kapasitas fisik, yang mencakup fleksibilitas otot dan tulang belakang (Jovial Noli, Jufri Sumampouw, dan Tamardy Ratag 2021). Karena pasangan yang terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini berjenis kelamin sama, faktor jenis kelamin juga sangat memengaruhi terjadinya nyeri leher dan lengan. Selain usia, faktor kehidupan sehari-hari dan hormon juga berpengaruh (Gärtner et al., 2020; Mardiyana et al., 2022). Kehamilan dan penggunaan kontrasepsi menyebabkan peningkatan hormon relaksin, yang melemahkan ligamen yang berfungsi sebagai pengikat sendi. Selain itu, penurunan kepadatan tulang yang disebabkan oleh menopause pada wanita dapat menyebabkan nyeri punggung bawah. Selain itu, kekuatan otot tidak sama untuk kedua jenis kelamin (Alcazar dkk., 2020).
Hasil analisis faktor pendidikan mitra menunjukkan bahwa mitra terbanyak memiliki gelar sarjana (S-1). Pendidikan tentang cara melakukan aktivitas sehari-hari dengan postur ergonomis menunjukkan tingkat pengetahuan yang diterima individu, dan lebih tinggi pendidikan diharapkan lebih mudah memahami untuk mencegah nyeri leher dan lengan (Basakci Calik et al., 2020). Pendidikan yang lebih baik akan diikuti dengan peningkatan pengetahuan, yang akan membantu seseorang memiliki sikap yang baik terhadap berbagai hal, seperti melakukan aktivitas sehari-hari agar tidak menimbulkan rasa sakit, terutama nyeri leher dan lengan. Ini sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi akan memengaruhi bagaimana seseorang bertindak atau membuat keputusan, serta bagaimana mereka melakukan (Zhang dkk. 2022) . Namun, temuan penelitian menunjukkan bahwa faktor keluarga, pekerjaan, dan ekonomi juga menyebabkan rasa sakit (Zajacova dkk., 2020). Selain itu, pendidikan dapat menyebabkan seseorang mengambil sikap atau posisi yang salah saat beraktivitas atau bekerja. Akibatnya, tubuh mengeluarkan banyak energi, yang membuatnya mudah mengalami cedera atau nyeri, terutama pada leher (McDonald et al., 2019). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah salah satu komponen keberhasilan dalam mengubah mitra menjadi lebih ergonomis saat melakukan aktivitas dan kemauan untuk sembuh sehingga mereka tidak mengatasi masalah nyeri pada lengan dan leher.
b. Tingkat pengetahuan Mitra sebelum dan sesudah pelatihan dalam dalam Mengatasi masalah nyeri leher dan Lengan
Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mitra tentang nyeri leher dan lengan sebelum pelatihan adalah kurang pada 45 orang, atau 75%, cukup pada 11 orang, atau 18,33%, dan baik pada 4 orang, atau 6,67%. Setelah pelatihan dan pendampingan, mitra memperoleh pengetahuan yang kurang pada 2 orang, atau 3,33%, pengetahuan yang cukup pada 12 orang, atau 20%, dan pengetahuan yang baik pada 46 orang, atau 76,67%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2: Tingkat pengetahuan Mitra sebelum dan sesudah pelatihan dalam
Mengatasi masalah nyeri leher dan Lengan

Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan pengetahuan mitra sebelum dan setelah diberikan ceramah dan latihan (konseling) berupa pengetahuan mengatasi nyeri leher dan lengan. Artinya bahwa pemberian ceramah dan latihan mengatasi masalah nyeri leher dan lengan merubah pengetahuan mitra. Dengan demikian konseling meningkatkan pengetahuan mitra tentang latihan mandiri yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri leher dan lengan. Hal ini dapat disebabkan oleh proses pemberian informasi, seperti ceramah, yang mengubah sikap dan perilaku seseorang. Pada akhirnya, kesadaran akan mengubah perilaku seseorang sesuai dengan pengetahuan yang mereka ketahui (Alkalah 2016; Purwati 2023). Agar menarik dan mendapatkan kesan yang jelas tentang topik yang dibahas, ceramah dapat disesuaikan dengan keadaan mitra atau audiens. Hal ini dapat mencakup hal-hal seperti kebiasaan sehari-hari yang dapat menyebabkan nyeri pada lengan dan leher (Umanailo, Suminah, dan Irianto 2019). Dalam konseling, metode ceramah yang efektif akan menarik perhatian audiens (Afurobi dkk. 2015; Bello, Ibi, dan Bulama Bukar 2016).
Kesimpulan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan mitra yang dituju telah meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa ketika mereka melakukan aktivitas, mereka melakukan gerakan sistem tubuh yang telah terbukti dapat membantu mengurangi nyeri leher dan lengan. Untuk menghindari masalah leher dan lengan, mitra harus bekerja dalam posisi ergonomis, dan jika terjadi nyeri pada leher dan lengan, mitra dapat melakukan latihan sederhana secara mandiri.
Kepustakaan :
Abolfotouh, Sameh M., Omar Alnori, Theodore Choma, Don Moore, dan Mostafa A. Abolfotouh. 2024. “Epidemiologi Nyeri Leher Akibat Pekerjaan di Kalangan Ahli Bedah Tulang Belakang.” Global Spine Journal 14(5):1515–23. doi: 10.1177/21925682221148685 .
Afurobi, Ada, Angela Izuagba, Carol Obiefuna, dan Perpetua Ifegbo. 2015. “Pengaruh Penggunaan Metode Ceramah dan Wordle terhadap Prestasi Mahasiswa yang Diajar Studi Kurikulum 1: EDU222.” Jurnal Pendidikan dan Praktik 6(18):142–49.
Alcazar, Julian, Per Aagaard, Bryan Haddock, Rikke S. Kamper, Sofie K. Hansen, Eva Prescott, Luis M. Alegre, Ulrik Frandsen, dan Charlotte Suetta. 2020. “Perubahan Spesifik Usia dan Jenis Kelamin pada Kekuatan Otot Anggota Tubuh Bawah Sepanjang Rentang Kehidupan.” Jurnal Gerontologi – Seri A Ilmu Biologi dan Ilmu Kedokteran 75(7):1369–78. doi: 10.1093/gerona/glaa013 .
Alkalah, Cynthia. 2016. “Metode Ceramah dan Diskusi Kelompok Efektif dalam Meningkatkan Pengetahuan Siswa Tentang Mencuci Tangan dengan Sabun.” 19(5):1–23.
Amal I. Elsiddig, Ibtisam A. AltalhiManal E. Althobaiti. 2022. “Prevalensi Nyeri Leher dan Bahu di Kalangan Mahasiswa Universitas Saudi yang Menggunakan Smartphone dan Komputer.” 8(4):194–200. doi: 10.4103/jfmpc.jfmpc.
Bahtiar, Komar, Resti Fajarfika, dan Hanny Hidayati. 2024. “Implementasi Tomat Hibrida sebagai Upaya Meningkatkan Produksi Panen Tomat.” 9(Agustus).
Basakci Calik, Bilge, Nesrin Yagci, Mucahit Oztop, dan Derya Caglar. 2020. “Pengaruh Faktor Risiko Terkait Penggunaan Komputer terhadap Nyeri Muskuloskeletal pada Pekerja Kantor.” Jurnal Internasional Keselamatan dan Ergonomi Kerja 28(1):1–6. doi: 10.1080/10803548.2020.1765112.
Beatrice Alberta, Ivana, Darvan Sebastian, dan Natasha Valeska Laksono. 2021. “Pendekatan Multidimensional Computer Vision Syndrome Di Era WFH.” Cermin Dunia Kedokteran 48(6):350–54. doi: 10.55175/cdk.v48i6.1439 .
Bello, Sulaiman, Mustapha Baba Ibi, dan Ibrahim Bulama Bukar. 2016. “Pengaruh Teknik Simulasi dan Metode Ceramah terhadap Prestasi Akademik Siswa di Sekolah Menengah Pertama Mafoni Maiduguri, Negara Bagian Borno, Nigeria Sulaiman.” Jurnal Pendidikan dan Praktik 7(23):113–17.
Gärtner, Fania R., Johan Marinus, Wilbert B. van den Hout, Carmen Vleggeert-Lankamp, dan Anne M. Stiggelbout. 2020. “Skala Dampak Radikulopati Servikal: Pengembangan dan Evaluasi Pengukuran Hasil Fungsional Baru untuk Sindrom Radikular Servikal.” Disabilitas dan Rehabilitasi 42(13):1894–1905. doi: 10.1080/09638288.2018.1534996 .
Jatmika, Linda, Suharni A. Fachrin, dan Mansur Sididi. 2022. “Faktor-faktor yang Berkaitan dengan Keluhan MSDS di Kalangan Buruh di Pelabuhan Yos Sudarso Tual.” Jurnal Kesehatan Masyarakat 3(3):563–74. doi: 10.33096/woph.v3i3.622.
Jovial Noli, Firsty, Oksfriani Jufri Sumampouw, dan Budi Tamardy Ratag. 2021. “Usia, Lama Masa Kerja dan Keluhan Nyeri Punggung Bawah pada Pekerja Pabrik Tahu.” Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas 2(1):1–7.
Mardiyana, Umi H., Agung H. Endaryanto, Dian Pitaloka Priasmoro, dan Ahmad Abdullah. 2022. “Pengaruh Latihan Stretching Terhadap Tingkat Nyeri Pada Pasien Nyeri Leher di RSUD Jombang.” Jurnal Keperawatan Muhammadiyah 7(1):2022.
McDonald, Marin A., Claudia FE Kirsch, Beejal Y. Amin, Joseph M. Aulino, Angela M. Bell, R. Carter Cassidy, Santanu Chakraborty, Asim F. Choudhri, Seth Gemme, Ryan K. Lee, Michael D. Luttrull, Darlene F. Metter, Toshio Moritani, Charles Reitman, Lubdha M. Shah, Aseem Sharma, Robert Y. Shih, Laura A. Snyder, Sophia C. Symko, Ralf Thiele, dan Julie Bykowski. 2019. “Kriteria Kesesuaian ACR ® Nyeri Leher Servikal atau Radikulopati Servikal.” Jurnal American College of Radiology 16(5):S57–76. doi: 10.1016/j.jacr.2019.02.023.
Natashia, Keishia, dan Feda Anisah Makkiyah. 2023. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keluhan Nyeri Leher Non-Spesifik pada Orang Dewasa Usia Produktif.” Ikraith-Humaniora 8(1):136–46. doi: https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v8i1.
Olesen, Jes. 2018. “Komite Klasifikasi Sakit Kepala dari International Headache Society (IHS) Klasifikasi Internasional Gangguan Sakit Kepala, Edisi ke-3.” Cephalalgia 38(1):1–211. doi: 10.1177/0333102417738202.
Purwati, Eva. 2023. “Perbedaan Hasil Konseling Kesehatan dengan Metode Audiovisual dan Demonstrasi pada Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Refleksi Diri di SMPN 3 Pagedongan Banjarnegara.” Seri Prosiding Ilmu Kesehatan & Kedokteran 4:1–9. doi: 10.30595/pshms.v4i.545.
Tariq, Fatima, Muhammad Kashif, Aiman Mehmood, dan Amna Quraishi. 2020. “Prevalensi Nyeri Leher dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Kehidupan Sehari-hari di Kalangan Dokter Gigi yang Bekerja di Faisalabad.” Jurnal Ilmu Kesehatan Rehman 2(1):10–13. doi: 10.52442/rjhs.v2i1.28.
Tufte, Thomas. 2009. “Komunikasi_Partisipatif_Tufte.Pdf.” 62.
Umanailo, R., Suminah, dan H. Irianto. 2019. “Efektivitas Penggunaan Metode Demonstrasi dan Ceramah, Metode Diskusi Kelompok dan Ceramah, dan Metode Ceramah dalam Konseling Pengolahan Pangan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia.” Jurnal Ilmu Pertanian dan Sosial-Ekonomi Rusia 87(3):166–74. doi: 10.18551/rjoas.2019-03.20.
Zajacova, Anna, Richard G. Rogers, Eric Grodsky, dan Hanna Grol-Prokopczyk. 2020. “Hubungan Antara Pendidikan dan Nyeri di Kalangan Dewasa Usia 30–49 Tahun di Amerika Serikat.” Journal of Pain 21(11):1270–80. doi: 10.1016/j.jpain.2020.03.005.
Zhang, Hongchao, Wenqi Luo, Chaoyuan Li, Jianhui Zhao, Qiao Zhang, dan Rui Gu. 2022. “Deskripsi Fitur Klinis dan Diagnosis dari 444 Kasus Nyeri Leher-Bahu-Ekstremitas Atas: Tinjauan Retrospektif Satu Pusat.” Jurnal Penelitian Nyeri 15:3483–92. doi: 10.2147/JPR.S376205.
Pemateri Pengabdian Kepada Masyarakat :
Prof. Dr. Hendrik, SH, S.ST. Ft., M.Kes.
Dr. Yonathan Ramba, M.Si, S.Ft, Physio
Arpandjam’an, SKM, S.ST. Ft, M.Adm.Kes.
Ditulis Oleh : apt. Rusdiaman, S.Si.,M.Si. Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar
