Sorotkeadilan.id, Makassar-Dalam dinamika politik kontemporer, kabinet bukan sekadar barisan birokrat, melainkan sebuah papan catur raksasa. Setiap pergeseran bidak mencerminkan kalkulasi kekuasaan, alokasi risiko, dan adu nyali eksekusi kebijakan. Namun, memposisikan Kementerian Pertanian (Kementan) beserta menterinya sebagai “kelinci percobaan” atau guinea pig untuk menguji program-program paling radikal dan berisiko tinggi adalah sebuah taruhan yang ekstrem.
Langkah ini melahirkan perdebatan sengit di ruang publik: apakah ini sebuah strategi genius untuk memecah kebuntuan birokrasi, atau justru sebuah bunuh diri sektoral yang mempertaruhkan hajat hidup 270 juta jiwa?
Eksperimen di Altar Kedaulatan Pangan. Mengapa Kementan kerap menjadi episentrum eksperimen kebijakan? Jawabannya sederhana: pangan adalah urusan paling primordial sekaligus paling rentan dipolitisasi. Mulai dari ambisi swasembada instan, cetak sawah raksasa (food estate), hingga digitalisasi pertanian skala masif, semuanya sering diuji coba secara sporadis di sektor ini.
Jika eksperimen ini diletakkan dalam kacamata strategi genius, argumen pendukungnya biasanya bertumpu pada konsep disruptive leadership:
Pondasi untuk Lompatan Besar, Sektor pertanian yang terkenal konservatif dan sarat ego sektoral dinilai butuh “kejutan listrik”. Menjadikan Mentan sebagai ujung tombak eksperimen memaksa seluruh ekosistem—mulai dari penyuluh, korporasi pangan, hingga petani gurem-untuk beradaptasi secepat kilat.
Tameng Politik Istana, dalam kalkulasi politik tingkat tinggi, menunjuk satu kementerian sebagai laboratorium kebijakan darurat memungkinkan pemerintah pusat mengukur resistensi publik dan pasar. Jika berhasil, apresiasi mengalir ke puncak kekuasaan; jika gagal, kompartemen menteri tersebut menjadi bumper atau peredam benturan politik.
Namun, pertanian bukan laboratorium kimia mini yang efek ledakannya bisa diisolasi dalam ruang kaca.
Anatomi Bunuh Diri Sektoral. Sisi gelap dari strategi ini adalah risiko bunuh diri sektoral. Ketika Kementan dipaksa menguji coba kebijakan yang belum matang secara empiris, ongkos yang harus dibayar terlalu mahal.
Ada tiga alasan mengapa eksperimen ugal-ugalan di sektor pertanian sangat berbahaya:
Pertama. Karakteristik Biologis Pertanian: Sektor agraria terikat pada hukum alam—siklus tanam, cuaca, keterbatasan hara tanah, dan ketersediaan air. Pertanian tidak bisa diakselerasi seperti industri manufaktur atau aplikasi digital. Kebijakan yang dipaksakan berubah dalam hitungan bulan hanya akan merusak ekosistem makro. Kedua Kesejahteraan Petani Terancam: Petani kita mayoritas adalah petani gurem dengan modal pas-pasan. Mereka tidak memiliki bantalan finansial untuk menoleransi kegagalan eksperimen kebijakan (misalnya, pemaksaan bibit tertentu atau skema pupuk baru yang belum teruji). Gagal panen akibat eksperimen adalah tiket menuju kemiskinan struktural.
Ketiga. Ancaman Krisis Sistemik: Sektor pangan memiliki efek domino langsung ke inflasi, stabilitas sosial, dan ketahanan nasional. Sejarah mencatat, kejatuhan rezim-rezim besar di dunia sering kali dimulai dari antrean beras dan gejolak harga pangan di pasar bawah.
Menimbang Ulang Arah Kompas Kebijakan. Menjadikan kementerian strategis sebagai kelinci percobaan adalah kemewahan politis yang tidak boleh diulang tanpa kalkulasi matang. Jika tujuannya adalah reformasi agraria dan lompatan produktivitas, maka metode eksperimennya harus diubah dari top-down trial by error (coba-coba dari atas) menjadi evidence-based policy (kebijakan berbasis bukti).
Kabinet harus paham bahwa Kementan bukanlah laboratorium swasta tempat menteri bisa melempar spekulasi tanpa konsekuensi. Kementan adalah benteng pertahanan terakhir dari kedaulatan perut bangsa.
Jika menteri terus dipaksa menjadi martir eksperimen politik-ekonomi yang setengah matang, kita tidak sedang bergerak menuju swasembada. Sebaliknya, kita sedang berjalan dengan mata tertutup menuju jurang ketergantungan impor pangan yang lebih dalam. Sudah saatnya menghentikan eksperimen di altar pangan, sebelum rakyat yang menanggung akibat dari kegagalan resepnya.
Ditulis oleh Rusdiaman, Pemerhati kabinet merah putih menuju NKRI maju…
