Sorotkeadilan.id, BANJARMASIN – Berdiri megah di delta pertemuan Sungai Barito dan Sungai Martapura, Banjarmasin bukan sekadar ibu kota bersejarah bagi Kalimantan Selatan. Kota ini memiliki identitas ikonik yang melekat di benak masyarakat Indonesia: “Kota Seribu Sungai”.
Meski secara matematis jumlah sungai yang melintasi kota ini tidak mencapai ribuan, julukan tersebut bukan sekadar hiperbola. Menurut data pemerintah kota, terdapat lebih dari 100 anak sungai yang membentuk jaring-jaring air raksasa di seluruh pelosok Banjarmasin.
Air Sebagai Bahasa Utama Masyarakat. Bagi warga Banjarmasin, sungai bukanlah hambatan lanskap, melainkan nadi kehidupan. Sejak era Kesultanan Banjar, air telah menjadi sarana transportasi, sarana perdagangan, hingga tempat berinteraksi sosial.
”Sungai bagi orang Banjar adalah urat nadi. Dulu, hampir semua rumah menghadap ke sungai. Aktivitas mandi, mencuci, hingga berdagang semuanya berpusat di atas air,” ujar seorang tokoh budayawan lokal, “Pak Anang”.
Bentuk adaptasi kebudayaan ini terlihat jelas dari arsitektur rumah tradisional Rumah Lanting-rumah terapung yang dibangun di atas fondasi batang kayu besar dan mengapung mengikuti naik-turunnya pasang surut air sungai.
Pesona Wisata: Pasar Terapung dan Jelajah Sungai. Pengalaman paling autentik di Banjarmasin tentu saja berpusat pada perairannya. Beberapa daya tarik utama yang terus memikat wisatawan domestik maupun mancanegara antara lain: Pasar Terapung Lok Baintan & Muara Kuin. Para pedagang (yang didominasi kaum perempuan) menjajakan hasil kebun, buah-buahan, dan kuliner khas dari atas perahu kayu tradisional yang disebut jukung.
Susur Sungai Martapura. Wisata perahu yang membawa pengunjung melintasi pusat kota, menikmati pemandangan Menara Pandang, hingga kulineran soto Banjar di pinggir sungai.
Siring Tendean. Kawasan ruang terbuka hijau di bantaran sungai yang menjadi pusat berkumpulnya warga pada sore dan akhir pekan.
Tantangan Modernisasi dan Upaya Revitalisasi.
Di tengah pesatnya pembangunan darat dan pertumbuhan penduduk, keberadaan sungai-sungai kecil sempat terancam oleh pendangkalan serta alih fungsi lahan. Namun, Pemerintah Kota Banjarmasin dalam beberapa tahun terakhir terus berbenah.
Langkah-langkah strategis seperti pengerukan alur sungai, penataan bantaran, hingga pelarangan pembuangan sampah ke sungai terus digalakkan untuk menjaga julukan ikonik ini tetap bernyawa.
Banjarmasin membuktikan bahwa sebuah kota modern tak perlu membelakangi sejarah perairannya. Sungai bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan identitas yang terus mengalir menghidupi masa depan kota.
Ditulis oleh : apt. Rusdiaman, SSi.,M.Si. Dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Makassar

